SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT DUNIA
Sejarah Perkembangan Filsafat Dunia,
seperti yang
kita tahu bahwa setiap peristiwa atau atau cerita, tokoh, pasti punya sejarah.
Sejarah memang sangat penting untuk kita tahu, karena dengan mengaetahui
sejarah maka dengan sendirinya kita akan cinta pada suatu hal yang sedang kita
pelajari atau yang ingin kita tahu.
Contohnya mempelajari filsafat, dengan mengetahui Sejarah Perkembangan Filsafat Dunia, maka
dengan sendirinya kita termotifasi untuk mempelaji filsafat. Silahkan anda baca
dibawah ini sejarah perkembangan filsafat
Filsafat adalah
studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis
dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektika.
Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika
merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam
matematika
dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi
tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi,
keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti
perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak
tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan
segala hal.
Etimologi
Meski istilah philosophia
(Φιλοσοφία) pertama kali dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani
pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta
(sekarang di pesisir barat Turki). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan
aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran
filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk
mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie,
1999).
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa
Indonesia merupakan kata serapan
dari bahasa Arab
فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani;
Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk
dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang
“pencinta kebijaksanaan”.
Kata filosofi
yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia.
Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia
seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Klasifikasi
Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi,
dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi
filsafat itu dibangun.
Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan
menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat
biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar
belakang agama.
Dalam buku History and Philosophy of Science karangan
L.W.H. Hull (1950), menulis setidaknya sejarah filsafat dan ilmu dapat dibagi
dalam beberapa periode, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada
periode itu
1.
Periode pertama, filsafat Yunani abad 6 SM
Pada masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros,
dan Anaximenes yang dianggap sebagai bapak-bapak
fisafat dari Mileta. Thales berpendapat bahwa sumber kehidupan adalah
air. Makhluk yang pertama kali hidup adalah ikan dan menusia yang pertama kali
terlahir dari perut
ikan. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi,
Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan
jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sementara Anaximenes dapat
dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh
manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan
pernapasan di dalam tubuh manusia.
Setelah mereka bertiga, Yunani kemudian memiliki pemikir-pemikir terkenal yang
lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Socrates, Plato,
Aristoteles, Phythagoras, Hypocrates, dan lain sebagainya.
2.
Periode Kedua, Periode Setelah Kelahiran Al Masih (Abad 0-6 M)
Pada masa ini pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan
para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada
masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir
sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran
hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan
menjadi sumber kebenaran.
3.
Periode Ketiga, Periode Kejayaan Islam (Abad 6-13 M)
Pada masa ini dunia Kristen Eropa mengalami abad kegelapan, ada juga yang
menyatakan periode ini sebagai periode pertengahan. Masa keemasan atau
kebangkitan Islam ditandai dengan banyaknya ilmuan-ilmuan Islam yang ahli
dibidang masing-masing, berbagai buku inilah diterbitkan dan ditulis. Di antara
tokoh-tokoh tersebut adalah Hanafi, Maliki, Syafii,
dan Hanbali yang ahli dalam hokum Islam, Al-farabi ahli astronomi dan
matematika, Ibnu Sina ahli kedokteran dengan buku terkenalnya yaitu The Canon
of Medicine. Al-kindi ahli filsafat, Al-ghazali intelek yang meramu berbagai
ilmu sehingga menjadi kesatuan dan kesinambungan dan mensintesis antara agama,
filsafat, mistik dan sufisme . Ibnu Khaldun ahali sosiologi, filsafat sejarah,
politik, ekonomi, social dan kenegaraan. Anzahel ahli dan penemu teori
peredaran planet. Tetapi setelah perang salib terjadi umat Islam mengalami
kemundurran, umat Islam dalam keadaan porak-poranda oleh berbagai peperangan.
Terdapat 2 pendapat mengenai sumbangan peradaban
islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang
hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat
dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh
St. Agustine (354 – 430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius
Boethius (480 – 524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang
Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi
dan Al-Farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya,
karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories
dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi
mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang
oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan
Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa,
maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak
akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari
terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.
Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan
filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates
(469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM). Setelah itu
diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM). Setelah zaman
Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya
Al-Kindi pada tahun 801 M. Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat
karangan Plato dan Aristoteles. Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid
pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan
Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.
Sepeninggal Al-Kindi, muncul
filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat.
Filosof-filosof itu diantaranya adalah : Al-Farabi, Ibnu Sina, Jamaluddin
Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhamad Iqbal, dan Ibnu Rushd. Berbeda dengan
filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibnu Rushd dilahirkan
di Barat (Spanyol). Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Baja
(Avempace) dan Ibnu Tufail (Abubacer). Ibnu baja dan Ibnu Tufail merupakan
pendukung rasionalisme Aris-toteles. Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi
sahabat.
Sedangkan Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun
seorang dokter dan telah mengarang Buku Ilmu Kedokteran berjudul Colliget, yang
dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai
seorang filosof. Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat
merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang
ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama,
sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk
menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu
Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First
Philosophy). Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan
kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang
bernilai.
Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang
diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali
yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak
gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman
Renaisance. Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan
seseorang menjadi atheis. Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali
hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme). Buku karangan
Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam karyanya
Tahafut-et-Tahafut (The Incohenrence of the Incoherence).
Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan
dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam.
Hoesin (1961) menyatakan bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd
merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat
Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban
Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan
kematian filsafat.
Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan
Ibnu Rushd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rushd
(Averroisme) dan paham yang menentangnya. Kalangan yang menentang ajaran
filsafat Ibnu Rushd ini antara lain pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan dan
Roger Bacon. Mereka yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan
argumentasi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya
Tahafut-el-Falasifah. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan
oleh kalangan filosof di Eropah Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah
masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam.
4. Periode Keempat, Periode kebangkitan Eropa (Abad 12-17 M)
Bersamaannya dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropa mengalami kebangkitan.
Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan
filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd
diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa
kebudayaan bangsa-bangsa Eropah. Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara
lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo
pada Tahun 1130 – 1150 M. Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke
Italia. Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan
Mikraj Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya
Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John
Salisbury pada tahun 1182.
Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat
ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka
agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu
disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran
dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.
Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam
mulai berkembang lagi. Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas
Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab
berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin. Pada tahun 1217 Frederick II mengutus
Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat
berbahasa latin karangan kaum muslimin. Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu
Rushd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot. Banyak
orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar
Ibnu Rushd dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab
Anima.
Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterje-mahkan
karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan
ilmu pengetahuan di Eropah Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan
oleh Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong
pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab.
Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan
diteruskan oleh putranya. Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman
bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256. Hermann kemudian
menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan
Ibnu Rushd. Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab tahafut-et-tahafut, yang
diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.
5. Periode Filsafat Modern (Abad 17-20 M)
Dikenal Juga sebagai abad Äufklarung. Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan
menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran, dan juga awal abad
kemunduran bagi umat Islam. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur pemikiran
yang mereka anut adalah rasionalitas, empirisrme, dan Kritisme. Peradaban Eropa
bangkit melampaui dunia islam. Masa ini juga memunculkan intelektual Gerard Van
Cromona yang menyalin buku Ibnu Sina, ”The canon of medicine”, Fransiscan Roger
Bacon, yang menganut aliran pemikiran empirisme dan realisme berusaha menentang
berbagai kebijakan gereja dan penguasa pada waktu itu. Dalam hal ini Galileo
dan Copernicus juga mengalami penindasan dari penguasa. Masa ini juga
menyebabkan perpecahan dalam agama Kristen, yaitu Kristen Katolik dan
Protestan. Perlawanan terhadap gereja dan raja yang menindas terus berlangsung
Revolusi ilmu pengetahuan makin gencar dan meningkat. Pada masa ini banyak
muncul para ilmuwan seperti Newton dengan teori gravitasinya, John Locke yang
menghembuskan perlawanan kepada pihak gereja dengan mengemukakan bahwa manusia
bebas untuk berbicara, bebas mengeluarkan pendapat, hak untuk hidup, hak untuk
merdeka, serta hak berfikir. Hal serupa juga dilakuklan ole J.J .Rousseau
mengecam penguasa dalam bukunya yang berjudul Social Contak.
Hal berbeda terjadi didunai Islam, pada masa ini umat Islam tertatih untuk
bangkit dari keterpurukan spiritual. Intelektual Islam yang gigih menyeru umat
Islam untuk kembali pada ajaran al-Quran dan Hadis. Pada masa krisis moral dan
peradaban muncul ilmuwan lainnya yaitu Muhammad Abduh. Muhammad Abduh berusaha
membangkitkan umat Islam untuk menggunakan akalnya. Ia berusaha mengikis habis
taklid. Hal tersebut dilakukan oleh Muhammad Abduh agara umat Islam menemukan
ilmu yang berasal dari al-Quran dan hadis.
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab
suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia
sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran
rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti
berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah
sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul
aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku
Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu
sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan
segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan
bagi seluruh pengetahuan.
Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal
yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Ini bukan khayalan, tetapi
kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”. Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir ( menyadari) maka
aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. — Mengapa kebenaran
itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah” — “clearly
and distinctly”, “clara et distincta”. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah
itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam
menentukan kebenaran. Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka
yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih
pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat
lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut
pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk
pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Hume merupakan pelopor para
empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari
indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana
kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.
Adapun Kritisisme oleh Imanuel Kant
(1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang
bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar
separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia
berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang
menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Begitulah pergulatan
antar aliran filsafat Modern.
Rasionalist diwakili Descartes, Empirist diwakili Hume, dan Kritisme oleh Kant
saling menkritik satu sama lain.
Referensi
JWM. Bakker:
Sejarah Filsafat dalam Islam. Penerbit, Yayasan
Kanisius, Anggota Ikapi. Yogyakarta, Cetakan ke 7. 2001
http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/
Science And
Civilization in islam, pengarang : seyyed Hossein nasr. penerbit : Barnes &
Noble Books, State University of New York dialih bahasakan oleh DR. yazid
penerbit Press, 1993
Harian
KOMPAS Rabu, 02 Mar 2005 Halaman: 46
www.wikipedia.org