Rabu, 12 Desember 2012

WADAH FILSAFAT, LABORATORIUM


WADAH FILSAFAT, LABORATORIUM

Kita dapat menempatkan fungsi suatu obyek sebagai sebuah wadah laboratorium sesuai dengan substansi yang dimiliki agar bermanfaat sesuai dengan kebutuhan hidup yang kita cari dan inginkan. Sebagai sebuah tempat/wadah untuk bertukar ide dan pikiran terutama kepada generasi muda dan kepada setiap orang sesuai dengan fungsi yang dimiliki oleh masing-masing orang tersebut.
Seseorang yang mencari ilmu dapat diibaratkan sesuai dengan jenjang ilmu atau tingkatan atau gelar yang digeluti dan kompetensi dimiliki. Kita dapat ibaratkan bahasa sindirannya atau guyonannya bahwa: S1 pecah telur, S2 kreatifitas, S3 belajar hidup, professor membangun hidup. Jadi tugas beratnya sebagai seseorang sesuai dengan jenjang ilmu yang dimiliki baik secara material maupun spiritual akan selalu berjenjang pula.
Setiap orang janganlah menutup diri tetapi kreatif dalam membangun hidup untuk mencari ilmu dan pengembangan keahlian diri sebagai anugerah dari Tuhan, kemanapun ilmu itu berada, untuk memperbaiki diri dan ilmu yang dimiliki dapat dimanfaatkan diberbagai bidang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Setiap yang memiliki sebuah ilmu atau keahlian selalu dibutuhkan sesuai dengan substansi dan eksistensi diri.
Jangan takut untuk gagal, karena kegagalan adalah sukses yang tertunda. Sebuah peribahasa yang masih dapat kita gunakan untuk membangun motivator dalam sebuah kratifitas hidup. Seperti menjadi guru yang akuntabilitas mungkin bukanlah hal yang muda dan itu memang bukan hal yang mudah bagi setiap orang karena  akuntabiliitas itu seberapa jauh dipercaya. Menjadi guru yang akuntabilitas, berarti kita dipercaya oleh orang tua untuk mendidik anak/buah hatinya.Menjadi seorang yang akuntabel bukan hanya sebagai seorang guru tapi mencakup antara ada dan yang mungkin ada, masih dicari dan dipertanyakan akuntabilitasnya. Baik seorang itu masih hidup atau sudah mati.
Di kemajuan teknologi saat sekarang ini, kita setiap yang ada pasti mempunyai kumpulan data sesuai dengan kebutuhan yang dimilikinya. Folder-folder itu selalu menjadi sarana prasarana bagi dia untuk  membantu setiap kerja yang dimiliki sesuai kapasitas wadah yang ada. Menjadi sarana pengembangan diri , membangun hidup. Sebagai ciri dari setiap diri yang ada.
Sesuatu yang ingin kita ketahui itu carilah ilmunya sendiri. Jangan berharap untuk diberi, tetapi dicari sendiri karena dalam proses pencarian sebagai suatu ciri bagi dirimu sendiri. Janganlah pernah jadi bayang-bayang dari orang lain tapi bangunlah untuk kebutuhan dirimu sendiri. Karena tidak ada gunanya untuk mendapatkan sesuatu jika hanya diberi tanpa sebuah usaha proses pencarian dan perjuangan. Maknanya akan selalu berbeda sesuai dengan sensitivitas yang dimiliki setiap orang antara ada dan yang mungkin ada.
Carilah wadah untuk laboratorium yang akan kamu gunakan sesuai dengan kapasitasnya. Carilah sesuai dengan apa yang ingin kamu peroleh dan kreatifkanlah setiap anugerah yang masih dapat kamu miliki. Jadilah seperti angin yang menyentuh dengan lembutnya, membawa sebuah kesejukkan, hanya dirasa tapi tak berbentuk karena kelembutan yang dimilikinya. Bangunlah wadah filsafatmu dalam sebuah laboratorium.
Pertanyaan:
Dalam membangun sebuah filsafat atau proses pencarian ilmu kita sering terintimidasi atau terpengaruh dengan pemahaman orang lain sesuai wadah yang kita gunakan sebagai sumber. Yang menjadi pertanyaan saya bagaimana cara agar kita tidak terintimidasi atau terpengaruh tetapi membangun pemahaman kita sendiri? Terima kasih

PIVI ALPIA PODOMI
12709251008
PENDIDIKAN MATEMATIKA KLS C

Rabu, 05 Desember 2012

apa ya ???????????????

berlari mengejar waktu entah ada dimana tuk menyusuri setiap jalan jawaban dengan berbagai macam cara yang diperlukan untuk sebuah penyelesaian meski itu bukanlah akhir dari setiap yang ditemui................

Rabu, 28 November 2012

Refleksi: MITOS DAN FILSAFAT


MITOS DAN FILSAFAT

Secara umum perjalanan filsafat yang kita pelajari ini tentu perjalanan diri kita, karena kita sendiri sebetulnya adalah filsafat. Filsafat yang mengalir dari jaman Yunani, seperti yang telah kita pelajari dimensinya maka sebetulnya ada dimensi material, dimensi formal dan dimensi spiritual. Sampai dengan abad pertama kelahiran Yesus kristus sebagai tahun 0 masehi, spiritualnya berbeda, yang bisa kita kenal spiritualnya ialah bahwa orang Yunani itu sudah mengenal dewa, sudah mengenal berbagai macam dewa, salah satunya ialah dewa hermen yang dianggap mampu mendengar bisikan tuhan dan menyampaikan bisikan tuhan itu kepada manusia. Kemudian dalam perjalanannya, persoalan mereka orang Yunani dulu hampir sama dengan persoalan kita sehari-hari. Yaitu bahwa seberapa jauh kita itu hidup mengandalkan mitos dan tidak mengandalkan mitos. Jangan dikira mitos itu selalu negatif, tidak selamanya mitos itu negatif. Anak kecil belajarnya dari umur 1 sampai 2 tahun memakai/menggunakan mitos. Mitos itu artinya melakukan tetapi tidak mengerti. Maka sampai seberapa jauh, sedangkan perjalanan hidup manusia itu sebenar-benarnya untuk mengerti dan atau memerangi mitos, walaupun mengerti itu berdimensi, dimensinya juga meliputi ada dan yang mungkin ada. Jadi kayak seekor kucing yang punya pengalaman piknik ke pantai selatan itu, dia hidup hanya mitos selamanya itupun tidak full. Memorinya terbatas, ada yang selalu diperbarui, diperbarui dan diperbarui, seberapa sih seekor burung mengenal tuannya? Rekonstruksi dari beberapa kalimat atau suara, seperti contoh juga seekor burung yang mampu mengenal tuannya, karena dia mempunyai memori.
Seorang ilmuan itu selalu mengambil referensi-referensi. Orang yunani yang pada saat itu berhasil secara efektif, ekstensif dan intensif mampu mengalahkan beberapa mitos. Begitu  juga dengan kita dan tidak tahu seberapa jauh mitos itu. Seperti di Jogjakarta tentang kebenaran Ratu Kidul, seberapa jauh kebenarannya Nyai Roro Kidul. Dilihat dari sisi hidup kita tidak mampu berani untuk berbicara/berkata, tapi dari sisi lain manfaatnya paling tidak orang tidak sembarangan memperlakukan laut selatan, andai kata punya dampak maka dampaknya positifnya, jika ada dari masyarakat akan selalu terjaga dan lestari laut selatan. Ceritanya Raja Mantaram Hamengkubuwono ke IX mampu mengalahkan dan memperistrinya. Sungguh hebat dan luar biasa Raja Mantaram, maka mana mungkin orang mampu macam-macam apalagi memberontak melihat rajanya yang mampu memperistri Nyai Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Kekurangannya, mengandaikan dari segi matematika manusia jadi berhenti untuk memikirkannya. Tapi di Jawa terutama di Jogjakarta bukan saja olah pikir tapi olah rasa, olah hati, dan seterusnya, itulah bedanya filsafat Yunani dulu dengan kita. Kita pun bisa membuat sebuah mitos dengan cerita kita sendiri melalui sebuah eksperimen, seperti contoh yang dibuat pak Marsigit, tapi kita harus mampu meyakinkan masyarakat dengan sebuah eksperimen kecil. Bayangkan jika kita raja, membuat eksperimen agar rakyat mampu mempercayai dan menghormati, agar tenteram dan positif thinking terhadap rajanya. Seperti tradisi Jawa, perlu adanya sesaji tuk gunung merapi. Ada jalur khusus antara gunung merapi, keraton dan kerajaan dengan gunung kidul, jika ditarik ada garis imaginer. Itulah sebabnya tugu tidak bisa tinggi, hanya setinggi orang berdiri lurus. Bayangkan di Kamboja, orang bikin tugu, tugu tinggi besar tapi garisnya tidak lurus nggak cocok maksudnya garis imaginernya. Ketika sang raja memandang ke selatan ke gunung merapi makanya tugu pendek pada saat dibongkar dan direnovasi. Tugu Jogja, tugu monumental, keistimewaan Jogja, semakin hari semakin istimewa, itulah harapannya
Kembali ke filsafat bersamaan mengalir bukan hanya filsafat tapi dari material, formal, dan juga spiritual. Zaman Yunani kuno produk filsafatnya sudah cukup hebat ada karya-karya dari Socrates sekalipun Socrates tidak berkarya tapi diceritakan oleh Plato, yang membuat tulisan Plato kemudian Aristoteles, Phitagoras, dan lain-lain. Masuk abad I, II masehi dan seterusnya, pada abad ke-V muncul islam dan seterusnya. Dalam interaksinya, ketika Yunani kuno secara material sudah ada kegiatan-kegiatan yang berelasi dengan pemikiran-pemikiran mereka. Material bersifat produk atau hasil, nilai budaya atau peradaban. Peradaban Yunani kuno sudah ada, termasuk misalnya tempat-tempat pertemuan, musolium atau apa yang sampai sekarang masih ada peninggalannya. Plato membuat buku republik yang mengatur tata cara kenegaraan /pemerintahan secara demokratis. Ketika gereja muncul di Eropa, negara-negara telah berkembang, pada akhirnya kerajaaan-kerajaan atau negara-negara terpengaruh oleh gereja. Pemilihan pimpinan dipengaruhi atau ditunjuk oleh gereja dengan beruding atau berontak atau ditunjuk. Puncak pemikiran dari gereja mulai surut abad ke XI, XII, menegakkan bahwa segala macam kebenaran adalah hak perogratif gereja sehingga tidak ada satu orang atau negara yang membuat atau memproduksi kebenaran kecuali mendapat rekomendasi dari gereja. Tidak mengerti apa itu oknum atau apa yang tertulis atau salah menerjemahkan, tetapi pada saat itu gereja berpendapat bahwa tata surya berpusat di bumi, bumi sebagai pusatnya. Adanya dibuku yunani kuno. Kemudian ada halilintar disiang bolong, si Copernicus membuat pemikiran bahwa bukan bumi dan ini berlawanan dengan gereja, tidak diterbitkan langsung bukunya, ia harus dihukum mati dengan pengikutnya, membawa korban Galelio dan Bruno tidak juga dari gereja tapi orang yang simpatik dan mendukung gereja. Dilihat dari segi kebenaran, gereja mengalami tamparan untuk mundur. Kita bisa lihat apakah oknumnya ataukah pemahaman yang berlebihan ataukah implementasinya. Apakah sebetulnya menyebutkan absolut. Tapi sekarang kita memikirkannya. Karena manusia sudah sampai di Mars dan di bulan. Dan teorinya sekarang yang benar berpusat di matahari. Kalau filsafat solusinya gampang sekali, pemikiran sentifik tapi secara spiritual oleh gereja menganggap bumi itu sebagai pusat karena yang dirasakan dan dilihat. Matahari terbit dan tenggelam dimana?? Dari timur ke barat, mereka mengelilingi kita. Itulah definisi yang digariskan dari gereja, pemikiran yang relatif semacam itu. Berfilsafat antara yang obyektif dan subyektif. Seperti contoh kapan matahari terbit dari barat?? Spiritual besok kalau kiamat, filsafatnya ketika engkau lagi bingung. Jadi nggak perlu menunggu kiamat, cukup menunggu engkau bingung. Jadi sulitnya berfilsafat apa?? Berfilsafat sangat mudah.
Dinamika perkembangan gereja dengan perkembangan agama islam terjadi bentrok dan beberapa pertempuran. Ada namanya perang salib. Pertempuran pertama nada-nadanya islam yang menang. Sehingga dunia timur yang berpusat di Turki dan Persi mampu mengambil referensi-referensi Yunani kuno, termasuk dinamika gereja yang tidak suka  terhadap filsafat Yunani kuno menyebabkan mereka merasa kehilangan dengan referensi tersebut. Pertempuran berikut oleh Eropa, islam dikalahkan,  sehingga ditemukan kembali naskah-naskah Yunani kuno termasuk naskah-naskah yang telah dikembangkan salah satunya filsuf islam Imam Al-Ghazali. Peran Islam salah satunya menyelamatkan filsafat Yunani kuno dengan buku-bukunya. Kemudian setelah itu zaman modern, zaman kebebasan berpikir. Menegakkan kebenaran tidak satu-satunya di dominasi oleh gereja. Olehnya orang jadi merdeka berpikir. Karena letak geografis yang dinamik, kalau kita monoton, sangat indah dan bagus, sangat ideal. Daerah-daerah di khatulistiwa sangat ideal, makmur, subur, dan sebagainya. Contoh hidup diluar negeri lebih banyak repotnya. Terlihat dari beberapa contoh. hidup di Indonesia serba mudah dan murah. Contohnya buat rumah, sangat sederhana pemikirannya, orang luar negeri banyak yang dipikirkan sampai jadi gelandangan harus pakai modal. Dan sangat mahal, karena perubahan musimnya sangat drastis dan tak terduga. Sehingga orang sana lebih dinamis dan sangat kreatif sehingga banyak temuan, banyak teknologi berasal dari sana. Seperti contoh musim panas datang mereka telah berpikir bagaimana dengan musim dingin. Contoh membuat rumah, yaitu bagamana cara membuat lubang sebagai perlindungan. Itu teknologi pertama, teknologi membuat lubang. Bukti di Indonesia beberapa terowongan peninggalan Belanda dan Jepang, seperti rel kereta api yang sampai sekarang belum ada perubahannya dan negara kita belum pernah membuat yang baru.
Abad XVIII, pada zaman modern, era industri di Inggris, ditemukan mesin uap. Dengan pralatan mesin, penjelajahan mereka bukan hanya pemikiran tetapi secara material, dengan menemukan dan menaklukan benua-benua, Belanda menemukan Indonesia yang semula berdagang jadi dijajah karena kurang berilmu dan bodoh. Dipekerja tanpa upah yang sampai sekarang satu-satunya negara yang dijajah adalah Palestina. Singkat cerita, filsafat tetap normalnya mengalir bersama materialnya. Formalnya Yaitu terjadi koloni-koloni. Amerika utara dan selatan. Utara industri pengaruh Inggris dan selatan agraris. Industrilah yang selalu menang. Itulah, maka sang power noun semuanya dimulai sejak zaman industri, sejak ditemukan mesin uap oleh James Watt. Diperkuat oleh Aguste Comte berkembanglah materialisme, pragmatisme, hendonisme, kapitalisme. Saat ini sponsornya amerika dan negara-negera Eropa, ujungnya kapitalisme. Contohnya, Amerika yang menjadi prioritas perdagangan dan investasi, karena pedagang besar kemanapun mereka berada selalu menjadi prioritas mencari keuntungan besar.

Pertanyaan:
Pak bolehkah saya meminta atau mengetahui referensi-referensi dari  mitos dan cerita-cerita diatas??
Terima kasih

Senin, 26 November 2012

KERINDUAN


rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperih,
berabad jarak dari mu ya Rasul, terasa dikau di sisi,,
cinta ikhlas mu pada manusia, bagai cahaya syuhada,,
dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja...

Rasulullah dalam mengingatmu, kami susuri...

subhanallah, maha suci Engkau yang tla menciptakan seorang RAsul mulia, suri teladan sepanjang masa, Rasulullah, Muhammad SAW..

dalam setiap pemikiran, langkah dan kenangan begitu kami merindukan dirimu, terselip dalam setiap doa dan harapan ingin berjumpa walau hanya sekedar memandang wajahmu, nur Muhammad,..
walaupun kadang terpikir juga apakah kami pantas untuk itu, tapi kerinduan ini sungguh tiada terkira, meski jarak kita berabad-abad jauhnya, di dunia yang berbeda, antara ruang dan waktu yang berbeda, tetapi kerinduan ini semakin menguat, semakin berarti, semakin ku ingin bertemu walau hanya memandang wajahmu ya Rasul.. walau hanya sekilas saja, walau hanya sedetik saja, tuk melihat pribadi yang mulia, pribadi penuh kelembutan n kebijakan, suri teladan sepanjang masa, pribadi yang mengagumkan, tak ada kata yang dapat terucap tuk mewakili indahnya setiap langkahmu, catatan demi catatan hidupmu yang bersahaja.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baiknya amalku adalah pada ujung akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku menemui-Mu. Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu) . Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pada-Mu keselamatan dalam agama, kesejahteraan/kesehatan jasmani, bertambah ilmu pengetahuan, rezeki yang berkat, diterima taubat sebelum mati, dapat rahmat ketika mati dan dapat ampunan setelah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami pada waktu sekarat dan selamatkanlah kami dari api neraka serta kami mohon kemaafan ketika dihisap.Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, Yang Maha Pengampun lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku mohon ya Allah, janganlah dulu cabut nyawaku sebelum Engkau haramkan neraka bagi kulitku dan sebelum Engkau wajibkan surga bagi diriku. Tetapkanlah diriku selalu setiap saat dalam keadaan beriman dan ingat kepada-Mu. Jadikanlah aku selalu dalam keadaan takut akan akhirat-Mu, jadikanlah aku menjadi orang yang dapat mencintai-Mu sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya mencintai diri-Mu dan sebagaimana mereka takut akan akhirat-Mu. Ya Allah, jadikanlah hidupku mulai hari ini hingga detik-detik terakhir kematianku penuh ketaqwaan, keimanan, kemudahan dan kebahagiaan. Lapangkanlah kuburanku, jauhkanlah aku dari siksa kubur ya Allah. Mudahkanlah aku ya Allah di padang Mahsyar, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau lindungi di padang Mahsyar hingga hari penghisaban. Mudahkanlah penghisaban diriku ya Allah. Masukkanlah aku ke surga-Mu ya Allah. Jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau beri izin untuk memandang wajah-Mu kelak di akhirat. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baiknya amalku adalah pada ujung akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku menemui-Mu. Amin ya rob alamin.

rindu kami padamu ya Rasul,,..

Rabu, 21 November 2012

Refleksi filsafatku di November


Piknik

Suatu saat diri lagi dalam persimpangan kebingungan dengan berjuta pertanyaan yang  belum dapat diklarifikasi,

Apa yang kau pikirkan??
Bingung dalam diam karena belum tau apa yang hendak dijawab,

Diriku adalah pikiranku
Diriku adalah jabatanku
Diriku adalah yang meliputi ada dan tiada
Diriku tidak lain dan tidak bukan adalah kapan dan dimana,
Diriku adalah kapitalis saat tertipu oleh para seorang pedagang, penjahat,
 Aku juga seorang realis,
Diriku menembus ada dan yang mungkin ada,
Saat ku menembus ruang dan waktu,  diriku dimana
Saat ku menembus ruang dan waktu diriku adalah pikiranku, entah dimana pikiranku kan berjalan dalam menembus ruang dan waktu,
Secara material aku mungkin dapat menembus ruang dan waktu, entah dimana keberadaannya, dalam doaku padaNYA yang pemilik segalanya, yang maha segala maha,

Mau atau tidak mau, direncanakan atau tidak direncanakan diriku pasti dapat menembus ruang dan waktu, entah sampai dimana,

Saat mengalami hari esok = diriku,

Pertanyaan:
Bagaimana cara menulis elegi yang baik n sesuai seperti elegi-elegi yang telah Bapak tampilkan??
Terima kasih atas jawabannya

Rabu, 17 Oktober 2012

laptopku

laptopku,,
selalu sedia setia setiap saat,
selalu ada,
menemaniku dengan segala fungsi yang dapat diberikannya,

laptopku,
selalu dan selalu,, selalu ada untukku,

Rabu, 03 Oktober 2012

sejarah perkembangan filsafat dunia


SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT DUNIA


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJs2gl94xLMfy19t7yL3y1Mz_GNVVYH1N4vwpm9jWWqUipHME2ssbaFS1jUeZXOKoSTkCDiNWPJ7nOj8DgM2PC904WBEQTqxPTeNLPvWz3c_l4zFmHHxUMa_zj5fz84_rXq38Xcyp0AfX2/s1600/sejarah+perkembangan+filsafat.jpgSejarah Perkembangan Filsafat Dunia, seperti yang kita tahu bahwa setiap peristiwa atau atau cerita, tokoh, pasti punya sejarah. Sejarah memang sangat penting untuk kita tahu, karena dengan mengaetahui sejarah maka dengan sendirinya kita akan cinta pada suatu hal yang sedang kita pelajari atau yang ingin kita tahu.
Contohnya mempelajari filsafat, dengan mengetahui Sejarah Perkembangan Filsafat Dunia, maka dengan sendirinya kita termotifasi untuk mempelaji filsafat. Silahkan anda baca dibawah ini sejarah perkembangan filsafat
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Etimologi
Meski istilah philosophia (Φιλοσοφία) pertama kali dimunculkan oleh Pythagoras, namun orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales (640-546 S.M.) dari Mileta (sekarang di pesisir barat Turki). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Klasifikasi
Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/98/Sanzio_01_Plato_Aristotle.jpg/220px-Sanzio_01_Plato_Aristotle.jpg
Description: http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf11/skins/common/images/magnify-clip.png
Plato (sebelah kiri) dan Aristotle (kanan), menurut lukisan Raffaelo Sanzio pada tahun 1509

Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun.
Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama.
Dalam buku History and Philosophy of Science karangan L.W.H. Hull (1950), menulis setidaknya sejarah filsafat dan ilmu dapat dibagi dalam beberapa periode, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terkenal pada periode itu

1.      Periode pertama, filsafat Yunani abad 6 SM

Pada masa ini ahli filsafatnya adalah Thales, Anaximandros, dan Anaximenes yang dianggap sebagai bapak-bapak fisafat dari Mileta. Thales berpendapat bahwa sumber kehidupan adalah air. Makhluk yang pertama kali hidup adalah ikan dan menusia yang pertama kali terlahir dari perut ikan. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.

Setelah mereka bertiga, Yunani kemudian memiliki pemikir-pemikir terkenal yang lebih berpengaruh lagi terhadap perkembangan fisafat, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Phythagoras, Hypocrates, dan lain sebagainya.


2.      Periode Kedua, Periode Setelah Kelahiran Al Masih (Abad 0-6 M)

Pada masa ini pertentangan antara gereja yang diwakili oleh para pastur dan para raja yang pro kepada gereja, dengan para ulama filsafat. Sehingga pada masa ini filsafat mengalami kemunduran. Para raja membatasi kebebasan berfikir sehingga filsafat seolah-olah telah mati suri. Ilmu menjadi beku, kebenaran hanya menjadi otoritas gereja, gereja dan para raja yang berhak mengatakan dan menjadi sumber kebenaran.
Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura.

3.      Periode Ketiga, Periode Kejayaan Islam (Abad 6-13 M)

Pada masa ini dunia Kristen Eropa mengalami abad kegelapan, ada juga yang menyatakan periode ini sebagai periode pertengahan. Masa keemasan atau kebangkitan Islam ditandai dengan banyaknya ilmuan-ilmuan Islam yang ahli dibidang masing-masing, berbagai buku inilah diterbitkan dan ditulis. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali yang ahli dalam hokum Islam, Al-farabi ahli astronomi dan matematika, Ibnu Sina ahli kedokteran dengan buku terkenalnya yaitu The Canon of Medicine. Al-kindi ahli filsafat, Al-ghazali intelek yang meramu berbagai ilmu sehingga menjadi kesatuan dan kesinambungan dan mensintesis antara agama, filsafat, mistik dan sufisme . Ibnu Khaldun ahali sosiologi, filsafat sejarah, politik, ekonomi, social dan kenegaraan. Anzahel ahli dan penemu teori peredaran planet. Tetapi setelah perang salib terjadi umat Islam mengalami kemundurran, umat Islam dalam keadaan porak-poranda oleh berbagai peperangan.

Terdapat 2 pendapat mengenai sumbangan peradaban islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354 – 430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480 – 524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.

Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates (469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM). Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M. Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.

Sepeninggal Al-Kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat. Filosof-filosof itu diantaranya adalah : Al-Farabi, Ibnu Sina, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhamad Iqbal, dan Ibnu Rushd. Berbeda dengan filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibnu Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol). Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Baja (Avempace) dan Ibnu Tufail (Abubacer). Ibnu baja dan Ibnu Tufail merupakan pendukung rasionalisme Aris-toteles. Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi sahabat.

Sedangkan Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang dokter dan telah mengarang Buku Ilmu Kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof. Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First Philosophy). Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.

Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman Renaisance. Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis. Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme). Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam karyanya Tahafut-et-Tahafut (The Incohenrence of the Incoherence).

Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam. Hoesin (1961) menyatakan bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat.

Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu Rushd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rushd (Averroisme) dan paham yang menentangnya. Kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rushd ini antara lain pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan dan Roger Bacon. Mereka yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan argumentasi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut-el-Falasifah. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropah Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam.

4. Periode Keempat, Periode kebangkitan Eropa (Abad 12-17 M)

Bersamaannya dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropa mengalami kebangkitan. Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropah. Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun 1130 – 1150 M. Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia. Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.

Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.

Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam mulai berkembang lagi. Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin. Pada tahun 1217 Frederick II mengutus Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslimin. Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rushd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot. Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar Ibnu Rushd dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab Anima.

Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterje-mahkan karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Eropah Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab.

Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya. Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256. Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rushd. Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab tahafut-et-tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.
5. Periode Filsafat Modern (Abad 17-20 M)

Dikenal Juga sebagai abad Äufklarung. Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran, dan juga awal abad kemunduran bagi umat Islam. Berbagai pemikiran Yunani muncul, alur pemikiran yang mereka anut adalah rasionalitas, empirisrme, dan Kritisme. Peradaban Eropa bangkit melampaui dunia islam. Masa ini juga memunculkan intelektual Gerard Van Cromona yang menyalin buku Ibnu Sina, ”The canon of medicine”, Fransiscan Roger Bacon, yang menganut aliran pemikiran empirisme dan realisme berusaha menentang berbagai kebijakan gereja dan penguasa pada waktu itu. Dalam hal ini Galileo dan Copernicus juga mengalami penindasan dari penguasa. Masa ini juga menyebabkan perpecahan dalam agama Kristen, yaitu Kristen Katolik dan Protestan. Perlawanan terhadap gereja dan raja yang menindas terus berlangsung Revolusi ilmu pengetahuan makin gencar dan meningkat. Pada masa ini banyak muncul para ilmuwan seperti Newton dengan teori gravitasinya, John Locke yang menghembuskan perlawanan kepada pihak gereja dengan mengemukakan bahwa manusia bebas untuk berbicara, bebas mengeluarkan pendapat, hak untuk hidup, hak untuk merdeka, serta hak berfikir. Hal serupa juga dilakuklan ole J.J .Rousseau mengecam penguasa dalam bukunya yang berjudul Social Contak.

Hal berbeda terjadi didunai Islam, pada masa ini umat Islam tertatih untuk bangkit dari keterpurukan spiritual. Intelektual Islam yang gigih menyeru umat Islam untuk kembali pada ajaran al-Quran dan Hadis. Pada masa krisis moral dan peradaban muncul ilmuwan lainnya yaitu Muhammad Abduh. Muhammad Abduh berusaha membangkitkan umat Islam untuk menggunakan akalnya. Ia berusaha mengikis habis taklid. Hal tersebut dilakukan oleh Muhammad Abduh agara umat Islam menemukan ilmu yang berasal dari al-Quran dan hadis.

Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”. Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir ( menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. — Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah” — “clearly and distinctly”, “clara et distincta”. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran. Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.

Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.

Adapun Kritisisme oleh Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Begitulah pergulatan antar aliran filsafat Modern. Rasionalist diwakili Descartes, Empirist diwakili Hume, dan Kritisme oleh Kant saling menkritik satu sama lain.



Referensi
JWM. Bakker: Sejarah Filsafat dalam Islam. Penerbit, Yayasan Kanisius, Anggota Ikapi. Yogyakarta, Cetakan ke 7. 2001
http://alkohol7.wordpress.com/2008/04/09/makalah-filsafat/
Science And Civilization in islam, pengarang : seyyed Hossein nasr. penerbit : Barnes & Noble Books, State University of New York dialih bahasakan oleh DR. yazid penerbit Press, 1993
Harian KOMPAS Rabu, 02 Mar 2005 Halaman: 46
www.wikipedia.org