Jumat, 06 November 2015
Senin, 25 Februari 2013
pingggiiiinnn
menulis mungkin bukanlah hal yang baru bagi setiap orang,, hanya dilihat bagaimana dirinya menggunakan dan memadukan bahasa yang akan dijadikan kata dalam perpaduan sebuah kalimat demi kalimat.. ingin sekali dapat memadukan tulisan demi tulisan tapi waktu itu bukanlah hal yang mudah ku cari, bukan alasan waktu juga sih,, tapi lebih tepat penyediaan waktu,,,..
ehmmm,,, andai saja..
ingin kuceritakan pada dunia,, heheheheheheee,, pingin kursus merangkai kata lagi nie,,,
dunia begitu unik untuk diceritakan, karena setiap yang masih diberi waktu n kesempatan punya ceritanya masing-masing sesuai dengan gaya bahasa yang diminati... bingungg yaaa... bagiku itu wajar dan merupakan hal yang sangat.. sangaat wajar,, apa lagi yang baru belajar seperti diriku,,,
tapi klo tidak ada kata memulai kapan realisasinya,,, so tetaplah semangaat dan jadi dirimu sendiri,,.. sebuah penguatan diriku dalam syukur karena DIA masih memberi kita waktu untuk menulis lagi,,,
hehehehehheheheheee,,,,
ehmmm,,, andai saja..
ingin kuceritakan pada dunia,, heheheheheheee,, pingin kursus merangkai kata lagi nie,,,
dunia begitu unik untuk diceritakan, karena setiap yang masih diberi waktu n kesempatan punya ceritanya masing-masing sesuai dengan gaya bahasa yang diminati... bingungg yaaa... bagiku itu wajar dan merupakan hal yang sangat.. sangaat wajar,, apa lagi yang baru belajar seperti diriku,,,
tapi klo tidak ada kata memulai kapan realisasinya,,, so tetaplah semangaat dan jadi dirimu sendiri,,.. sebuah penguatan diriku dalam syukur karena DIA masih memberi kita waktu untuk menulis lagi,,,
hehehehehheheheheee,,,,
Rabu, 09 Januari 2013
refleksi
Refleksi
REFLEKSIKAN REFLEKSI...
Akhir perkuliahan
tatap muka filsafat ilmu yang telah dilewati dapat saya refleksikan lewat
untaian kata-kata ini,....
Teruslah berelegi,
semoga elegi dapat bermanfaat untuk kita. Terutama dalam membaca merefleksikan
isi dari elegi itu. Dan teruslah belajar dan belajar selalu dari setiap bagian
kehidupan yang kita jalani. Itulah filsafat, selama ada manusia yang hidup dan
berfikir selama itulah orang-orang masih berfilsafat. Sesuaikanlah wadah dan
isinya, agar kita dapat menempatkan substansi dan eksistensi dari setiap aspek
agar sesuai dengan wadah dan isi tersebut.
Setiap menelaah filsafat
ada beberapa topik yang tidak mudah untuk dikomunikasikan, begitu yang saya
ingat yang disampaikan pada pertemuan ini dan itu pula yang kami alami, karena
memang tidak mudah untuk memahami filsafat, terutama memahami mengenai masalah:
1.
Ketuhanan
2.
Nomena: arwah dan alam gaib
3.
Intuisi
Gunakan setiap waktu
yang kita miliki, berdoa dan berusaha, jangan hanya sekedar memahami teori tapi
ajarkanlah dalam praktek nyata, agar selalu berguna bagi diri kita, keluarga
dan masyarakat. Perbanyak memahami dan bersilahturahmi agar selalu ada
pencerahan dalam setiap langkah mengartikan hidup yang telah, sedang dan akan
dijalani. Selalu belajar dan terus belajar ikhlas, meski ikhlas itu tidak mudah
karena menggapai ikhlas butuh waktu dan sempat serta kerendahan hati untuk
selalu berkarya dan mengkreasikan setiap yang dapat kita lakukan terutama
pencarian ilmu dan arti diri. Dalam setiap langkah, selama waktu itu masih
milik kita, dan masih ada sempat yang dikaruniakan olehNYA. Refleksi semoga
membawa arti dan bermanfaat, terima kasih untuk setiap ilmu yang diberikan,
yang telah dibagikan, semoga kita senantiasa berada dalam lindunganNYA untuk
menggapai rahmat dan ridaNYA...
Amien..
PIVI ALPIA PODOMI
12709251008
PENDIDIKAN MATEMATIKA KLS C
12709251008
PENDIDIKAN MATEMATIKA KLS C
Rabu, 02 Januari 2013
tugas akhir filsafatku
MAKALAH
TEORI
TENTANG KEBENARAN
(Korespondensi,
Koherensi, Pragmatis, Religious, dan Sintaksis)
Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi
Tugas-Tugas Perkuliahan Filsafat Ilmu
Dari Prof
Dr. Marsigit M.A.
Tahun
2012/2013
Oleh:
Pivi
Alpia Podomi, S.Pd
12709251008
PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI
YOGYAKARTA
2013
I. PENDAHULUAN
Kata “ Kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda
yang konkrit maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya
adalah proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung
dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila subjek menyatakan kebenaran
bahwa proposisi yang di uji itu pasti memilki kualitas, sifat atau
karakteristik, hubungan dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak
dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu
sendiri. Adanya berbagai macam kategori sebagaimana tersebut diatas, maka
tidaklah berlebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memilki persepsi dan
pengertian yang amat berbeda satu dengan lainnya.[1]
Kebenaran menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk
meyakinkan seseorang ketika diambang sebuah kebingungan dari sebuah konsep yang
masih meragukan. Lalu apa sebenarnya sebuah kebenaran itu. Kebenaran merupakan
keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya atau sesuatu yang
sungguh-sungguh. Kebenaran adalah soal kesesuaian sebagai kenyataan yang
sesungguhnya. Benar atau salahnya sesuatu adalah masalah sesuai atau tidaknya tentang
apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Pandangan lain tentang
kebenaran dinyatakan oleh Mudyahardjo bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian
antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realita
sebagaimana adanya. Misalnya, setiap orang mengatakan bahwa “Matahari merupakan
sumber energi” adalah suatu pernyataan yang benar, karena pernyataan itu dapat
didukung oleh kesesuaian terhadap kenyataan.[2]
Kebenaran sebagai ruang lingkup dan obyek pikir manusia
sudah lama menjadi penyelidikan manusia. Manusia sepanjang sejarah kebudayaannya
menyelidiki secara terus menerus apakah hakekat kebenaran itu. Kebenaran adalah
satu nilai utama di dalam kehidupan manusia.Sifat manusia adalah fitrah yang
ingin selalu “mendekap” kebenaran. Manusia selalu mencari kebenaran, jika
manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk
melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang
kebenaran, tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik psikologis.
Filsuf adalah adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang
diburunya adalah kebenaran yang hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal
yang dapat di persoalkan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa berfilsafat
berarti memburu kebenaran tentang segala sesuatu. Tentunya kebenaran yang
hendak di gapai bukanlah kebenaran yang meragukan. Untuk memperoleh kebenaran
yang sungguh sungguh dapat di pertanggung jawabkan, setiap kebenaran yang telah
diraih harus senantiasa terbuka untuk di persoalkan kembali dan di uji. Jelas
terlihat bahwa kebenaran filsafat tidak pernah bersifat mutlak dan final,
melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran yang baru yang
lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan
kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan.Dengan demikian terlihat
bahwa salah satu sifat dasar filsafat adalah senantiasa memburu kebenaran. Upaya
memburu kebenaran itu adalah demi kebenaran itu sendiri, dan kebenaran yang diburu
adalah kebenaran yang lebih meyakinkan serta lebih pasti.
Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah
kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa
tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas
ini. Berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus
terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita dapatkan.
II. TEORI - TEORI KEBENARAN
1.
Teori Korespondensi
Teori kebenaran ini berpendapat bahwa kebenaran tercapai dalam atau
tergantung pada adanya relasi antara suatu keyakinan atau bagian bagian dari
pengetahuan dengan suatu fakta dalam dunia nyata. Ini merupakan teori nalar
umum (common-sense). Jika nalar umum bisa dikatakan memiliki teori. Kita
biasanya berfikir bahwa, saat kita memilki suatu keyakinan misalnya mengenai
dunia fisik, keyakinan tersebut dibuktikan salah atau benar bukan oleh
keyakinan yang lain melainkan oleh sesuatu dalam dunia nyata yang menjadi
rujukannya. Misalnya keyajinan kita bahwa dalam ruangan tertentu ada meja
adalah benar karena dengan fakta mengenai ruangan tersebut. Kemudian hal lain
juga dengan keyakinan-keyakinan mengenai pikiran dan pengalaman. Keyakinan kita
misalnya bahwa sakit gigi kemarin hanya bisa dibuktikan kebenarannya oleh fakta
bahwa kita memang sakit gigi.Teori kebenaran korenspondensi adalah teori yang
berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi
terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju
pernyataan tersebut.Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada
kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu
proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan
apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris
pengetahuan.
Jadi,
secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu
pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu
berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan
tersebut.[3]
Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “ kota Manado terletak di pulau
Sulawesi” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek
yang bersifat faktual, yakni kota Manado memang benar-benar berada di pulau
Sulawesi. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “ kota Manado berada di
pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek
yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “
kota Manado bukan berada di pulau Jawa melainkan di pulau Sulawesi”.
Paham
lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada teori korespondensi, di mana
eksponen utamanya adalah Bertrand Russlell (1872-1770) bagi penganut teori
korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang
dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang
dituju oleh pernyataan tersebut. Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya
keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan,
oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan
atau diingkari.Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan
ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah.[4]
2.TeoriKebenaranKoherensi
Teori koherensi dikembangkan pada abad ke 19 di bawah pengaruh hegel
dan mazhab idealis yang berkaitan dengannya. Menurut teori ini, kebenaran tidak
ditemukan oleh relasi antar suatu penilaian dengan suatu hal lain, suatu fakta
atau realitas, melainkan oleh relasi diantara penilaian-penilaian itu sendiri.
Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada
kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai
dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara
logis.
Seorang
sarjana Barat A.C Ewing menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa
koherensi yang sempurna merupakan suatu ideal yang tak dapat dicapai, akan
tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal
tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan
terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari
pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya.[5]
Pernyataan-pernyataan
ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Seperti sebuah
percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungan dari massa, gaya
dan kecepatan dalam fisika. Kebenaran tidak hanya terbentuk oleh hubungan
antara fakta atau realitas saja, tetapi juga hubungan antara
pernyataan-pernyataan itu sendiri. Dengan kata lain, suatu pernyataan adalah
benar apabila konsisten dengan pernyataan-pernyataan yang terlebih dahulu kita
terima dan kita ketahui kebenarannya.
Salah
satu dasar teori ini adalah hubungan logis dari suatu proposisi dengan
proposisi sebelumnya. Proposisi atau pernyataan adalah apa yang dinyatakan,
diungkapkan dan dikemukakan atau menunjuk pada rumusan verbal berupa rangkaian
kata-kata yang digunakan untuk mengemukakan apa yang hendak dikemukakan.
Proposisi menunjukkan pendirian atau pendapat tentang hubungan antara dua hal
dan merupakan gabungan antara faktor kuantitas dan kualitas. Contohnya tentang
hakikat manusia, baru dikatakan utuh jika dilihat hubungan antara kepribadian,
sifat, karakter, pemahaman dan pengaruh lingkungan.
Menurut
Kattsoff (1986) “ Suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut
saling berhubungan dengan proposisi proposisi sisi lain yang benar, atau jika
makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman
kita”. Dengan memperhatikan dua kutipan yang bernada sama maka dapat
diungkapkan dengan bahasa yang lebih sederhana bahwa teori kebenaran koherensi
atau teori kebenaran saling berhubungan yaitu suatu proposisi itu atau makna
pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar bila proposisi itu mempunyai
hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar.
Sebagai
contoh kita sebagai bangsa Indonesia pasti memilki pengetahuan bahwa Indonesia
diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari jum’at tanggal 17 Ramadhan.
Jika seorang hendak membuktikannya tidak dapat langsung melalui kenyataan dalam
objektiftasnya, karena kenyataan itu telah berlangsung 66 tahun yang lalu.Untuk
membuktikannya, maka harus melalui ungkapan-ungkapan tentang fakta itu yaitu
melalui sejarah atau dapat diafirmasikan kepada orang-orang yang mengalami dan
mengetahui kejadian itu.[6]
Secara
sederhana dapat di simpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan
di anggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan
pernyataan-pernyataan sebelumnya yang di anggap benar. Bila kita menganggap
bahwa “ semua manusia akan mati “ adalah suatu pernyataan benar, maka
pernyataan “ si fulan adalah manusia” dan “si
fulan pasti mati”, adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah
konsisten dengan pernyataan yang pertama.[7]
Kedua
teori koherensi dan korespondensi kedua-duanya dipergunakan dalam cara berpikir
ilmiah. Penalaran teoritis berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan
teori kohernsi. Sedangkan proses pembuktian secara empiris dalam bentuk
pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan tertentu mempergunakan
teori kebenaran yang lain disebut teori kebenaran pragmatis.
3. Teori Kebenaran Pragmatis
Teori pragmatis tentang kebenaran ini dikembangkan dan
dianut oleh para pilosof pragmatis dari Amerika seperti Charles Sanders Pierce
(1839-1914) dan William James (1863-1931). Bagi kaum pragmatis, kebenaran sama
artinya dengan kegunaan. Jadi, ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang
benar adalah ide yang berguna.Ide yang benar adalah ide yang paling mampu
memungkinkan seseorang berdasarkan ide itu melakukan sesuatu secara paling
berhasil dan tepat guna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria
utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak. William James (1863-1931)
mengembangkan teori pragmatisnya dengan berangkat dari pemikirannya tentang
“berpikir”. Menurutnya, fungsi dari berpikir bukan untuk menangkap kenyataan
tertentu, melainkan untuk membentuk ide tertentu demi memuaskan kebutuhan atau
kepentingan manusia. Oleh karena itu, pernyataan penting bagi James adalah jika
suatu ide diangap benar, apa perbedaan praktis yang akan timbul dari ide ini
dibandingkan dengan ide yang tidak benar. Apa konsekuensi praktis yang berbeda
dari ide yang benar dibandingkan dengan ide yang keliru.[8]
Menurut William
James, ide atau teori yang benar adalah ide atau teori yang berguna dan
berfungsi memenuhi tuntutan dan kebutuhan kita. Sebaliknya, ide yang salah,
adalah ide yang tidak berguna atau tidak berfungsi membantu kita memenuhi
kebutuhan kita. Dengan demikian bagi William James, ide yang benar adalah ide
yang dalam penerapannya paling berguna dan paling behasil memungkinkan manusia
bertindak atau melakukan sesuatu. Artinya, jika ide tertentu itu benar, maka
ide itu akan berguna dan berhasil membantu manusia untuk bertindak secara
tertentu. maka kebenaran, sama dengan berguna atau kebergunaan. Ide yang
berguna lalu berarti ide yang benar dan sebaliknya. Ini berarti pula, suatu ide
yang benar akan memungkinkan kita dan menuntun kita untuk sampai pada
kebenaran, atau memungkinkan kita untuk sampai pada apa yang diklaim dalam ide
atau pernyataan tersebut. Teori kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti
dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial.
Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya
dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya.
Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional
dalam kehidupan praktis.Menurut teori ini proposisi dikatakan benar sepanjang
proposisi itu berlaku atau memuaskan. Apa yang diartikan dengan benar adalah
yang berguna dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna. Bagi para pragmatis, batu ujian kebenaran
adalah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability) dan pengaruhnya yang
memuaskan. Contohnya, ide bahwa untuk memberantas korupsi maka harus ada sebuah
lembaga tertentu yang menangani persoalan korupsi. Maka, konsep solusinya,
“Dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK”. Maka ide tersebut
menjadi benar jika ide itu berguna atau
berhasil memecahkan persoalan korupsi.
Teori ini
tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak. Pragmatisme adalah
suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan
dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat
secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran
itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono, 1980:130) dalam kehidupan
manusia.[9]
Francis
Bacon pernah menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus mencari
keuntungan-keuntungan untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi. Ilmu
pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan manusia. Dengan
kata lain ilmu pengetahuan manusia adalah kekuasaan manusia. Hal ini membawa
jiwa bersifat eksploitatif terhadap alam karena tujuan ilmu adalah mencari
manfaat sebesar mungkin bagi manusia. Manusia dengan segala segi dan kerumitan
hidupnya merupakan titik temu berbagai disiplin ilmu. Hidup manusia seutuhnya
merupakan objek paling kaya dan paling padat. Ilmu pengetahuan seyogyanya bisa
melayani keperluan dan keselamatan manusia.Tujuan ilmu adalah penguasaan
terhadap alam. Ilmu harus mempunyai kegunaan praktis dan menambah superioritas
manusia terhadap alam semesta. Semboyan Bacon yang terkenal adalah Knowledge
is Power. Dengan ilmu manusia akan dapat menundukkan alam. Seluruh
filsafatnya bersifat praksis, yaitu untuk menjadikan manusia menguasai
kekuatan-kekuatan alam dengan perantaraan penemuan-penemuan ilmiah.[10]
Kriteria
pragmatisme juga dipergunakan ilmuwan dalam menentukan kebenaran ilmiah dilihat
dalam perspektif waktu. Secara historis maka pernyataan ilmiah yang dianggap
benar suatu waktu mungkin tidak demikian.Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka
ilmuwan bersifat pragmatis, selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai
kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi
demikian. Dihadapkan dengan masalah ini maka imuwan bersifat pragmatis: selama
pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap
benar. Sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan
perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka
pernyataan itu ditinggalkan. Pengetahuan ilmiah memang tidak berumur panjang, seperti
diungkapkan sebuah pengumpulan pendapat dikalangan ahli fisika, bahwa teori
tentang partikel takkan lebih dari empat tahun. Untuk ilmu-ilmu lainnya yang
agak kurang berhasil dalam menentukan hal-hal baru, seperti embriologi, sebuah
revisi dapat diharapkan tiap kurun waktu lima belas tahun.
4. Teori
KebenaranReligious
Teori ini berpendirian bahwa kebenaran ialah kebenaran
Illahi
(divine truth) kebenaran yang bersumber dari tuhan, kebenaran mana yang
disampaikan melalui wahyu. Manusia bukan semata makhluk jasmani yang ditentukan
oleh hukum alam dan kehidupan saja. Ia juga makhluk rohaniah sekaligus,
pendukung nilai. Kebenaran tidak cukup diukur dengan interes dan rasio
individu, akan tetapi harus bisa menjawab kebutuhan dan memberi keyakinan pada
seluruh umat. Karena itu kebenaran haruslah mutlak, berlaku sepanjang sejarah
manusia .Kebenaran adalah kesan subjek tentang suatu realita, dan perbandingan
antara kesan dengan realita objek. Jika keduanya ada persesuaian, persamaan
maka itu benar.Kebenaran tak cukup hanya diukur dengan rasional dan kemauan
individu. Kebenaran bersifat objective, universal, berlaku bagi seluruh umat
manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari
Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.[11]
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan
kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya
sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan
sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah yang bersifat
transedental kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan,
kepercayaan kepada nabi sebagai suatu pengantara dan kepercayaan terhadap suatu
wahyu sebagai cara penyampaian merupakan titik dasar dari penyusunan
pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu
pernyataan harus dipercaya dulu baru bisa diterima. Dan pernyataan ini bisa
saja dikaji lewat metode lain. Secara rasional bisa dikaji umpamanya apakah
pernyataan-pernyataan yang terkandung didalamnya konsisten atau tidak.di pihak
lain secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan
tersebut. Dalam memulai mencari kebenaran, pada tahap ini kita akan menghadapi
pertanyaan ”what” dan ”when” (apa dan kapan). Kemudian jalan pembuktiannya kita
lakukan. Dalam pembuktian ini kita memasuki tahap ”why” dan ”how” (mengapa dan
bagaimana). Karena pencarian kebenaran sampai pada tahap ini maka dalam mencari
kebenaran kita harus menggunakan alur rasio kita (thinking), dengan melibatkan
seluruh panca indera kita (feeling), disertai dengan mengerahkan kemampuan
untuk merasakan sesuatu sampai batas menemukan suatu kebenaran dan pembenaran
yang hakiki (believing).[12]
Dan pada akhirnya akhir ataupun ujung dari proses
pencarian/menemukan suatu kebenaran ini sangat bersifat relatif bergantung masing-masing individu sesuai
dengan kapasitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya, karena setiap orang
memiliki persepsi yang sangat berbeda tentang kebenaran bagi kaum religius
kebenarn illahi ini adalah kebenarna tertinggi, dimana semua kebenaran
(kebenaran indera, kebenaran ilmiah, kebenaran filosofis) taraf dan nilainya
berada di bawah kebenaran ini.
Kebenaran religius dalam kenyataan adalah berkaitan
dengan spiritualitas dan amat berhubungan dengan esensi yang berkaitan dengan
keyakinan. Kebenaran religius bisa terjadi kepada siapapun selain Nabi dan
Rasul, yang dalam keyakinan kita sebagai muslim misalnya mendapat ilham. Terkadang
juga dalam tingkatan kebenaran religiutas ada hal yang sulit diterima secara
rasional misalnya ada yang disebut dengan “indera keenam” ada seseorang
yang mengetahui tentang sebuah kebenaran akan masa datang yang belum terjadi dan
atau yang akan terjadi yang pada kenyataannya ada benarnya dalam pembuktian dan
terkadang juga tidak terbukti. Pada intinya kebenaran religiutas sangat
berkaitan dengan sebuah prinsip keyakinan,keghaiban dan ketuhanan.
5. Teori Kebenaran Sintaksis
Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal
tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatikal yang di pakai oleh suatu
pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Dengan demikian suatu pernyataan
bernilai benar bila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku.
Dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari
hal yang di syaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti. Teori ini
berkembang di antara filsuf bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap
pemakaian gramatika seperti friderich Schleiermacher (1768-1834).
Menurut Schleiermacher sebagaimana dikutip dalam oleh
poesprojo (1987), pemahaman adalah suatu rekonstruksi, bertolak dari ekpresi
yang selesai di ungkapkan menjurus ke suasana kejiwaan dimana ekspresi tersebut
diungkapkan. Disini terdapat dua momen yang saling terjalin dan berinteraksi,
yakni momen tata bahasa dan momen kejiwaan.[13]
Teori ini mengatakan bahwa suatu pernyataan memiliki
nilai benar jika pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku.
Atau, apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang di
syaratkan, proposisi itu tidak mempunyai arti. Kehormatan dan kepercayaan harus
dijaga supaya orang lain tidak merasa dikecewakan. Sekali orang berkhianat,
orang lain sulit sekali memberi kepercayaan kembali. Orang yang suka lamis atau
munafik lama-kelamaan akan dijauhi relasi kerjanya. Sebuah manajemen organisasi
akan rusak solidaritas para anggotanya manakala sudah terjadi lamis atau
kemunafikan. Seseorang dalam melakukan kecurangan dan tidak transparan dalam
manajemen.
III. TINGKATAN-TINGKATAN KEBENARAN
Ada
beberapa wujud kebenaran, dan wujud ini berbeda-beda tingkatannya.Perbedaan
tingkat ini terutama ditentukan oleh potensi subjek yang menyadari atau
menangkap kebenaran itu. Baik panca indra, maupun rasio, bahkan juga jiwa
nurani manusia adalah potensi subjek yang menangkap dan menghayati kebenaran
itu. Berdasarkan scope potensi subjek itu tadi, maka susunan tingkatan
kebenaran itu menjadi:
1. Tingkat kebenaran indra adalah tingkat yang paling sederhana dan
pertama yang dialami manusia. Indra adalah gerbang kesadaran manusia.
2. Tingkat ilmiah pengalaman- pengalaman yang didasarkan disamping
melalui indera, diolah pula dengan rasio.
3. Tingkat filosofis, kedua
tingkat di atas telah dilalui sebagai tahap pendahuluan. Rasio dan pikir murni,
renungan yang mendalam, mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya.
4. Tingkat religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang
Maha Esa, dan dihayati dengan seluruh kepribadian, dengan integritas
kepribadian, dengan iman dan kepercayaan.
IV. PENUTUP
Berfilsafat
bisa dilakukan oleh setiap orang. Seseorang yang berfilsafat pada hakikatnya
sedang mempelajari dirinya sendiri. Karena seseorang yang berfilsafat pada
penghujung petualangannya dengan suatu tindakan berpikir yang menggunakan akal
budi untuk mencari dan menemukan menemukan kebenaran hakiki. Tetapi kebenaran
ini sangat bersifat relatif bergantung kapasitas ilmu dan pengetahuan yang
dimilikinya. Semakin kaya seseorang dengan ilmu dan pengalaman maka semakin
luas pula ruang lingkup filsafat yang akan dia jangkau.
Kebenaran
ditentukan oleh potensi subyek yang berperanan di dalam penghayatan atas
sesuatu itu. Bahwa kebenaran itu adalah perwujudan dari pemahaman
(comprehension) subjek tentang sesuatu terutama yang bersumber dari sesuatu
yang diluar subyek itu realita, perisitwa, nilai-nilai (norma dan hukum) yang
bersifat umum.Bahwa kebenaran itu ada yang relatif terbatas, ada pula yang
umum. Bahkan ada pula yang mutlak, abadi dan universal. Wujud kebenaran itu ada
yang berupa penghayatan lahiriah, jasmaniah, indera, ada yang berupa ide-ide
yang merupakan pemahaman
potensi subjek (mental, rasio,
intelektual). Bahwa substansi kebenaran adalah di dalam intreraksi kepribadian manusia dengan alam semesta. Tingkat wujud
kebenaran ditentukan oleh potensi subjek yang menjangkaunya. Dengan berfilsafat seharusnya seseorang akan lebih
mengerti hakikat kehadirannya dalam kehidupan didunia ini, yang pada akhirnya
akan menyadarkan bahwa dirinya adalah makhluk kecil yang tiada berdaya dengan
segala keterbatasan ditengah semesta keluasan dan kemahakuasaan Tuhan yang Maha
Esa.
[1] Tim
Dosen filsafat ilmu Fakultas filsafat UGM, Filsafat Ilmu, ( Yogyakarta :
Liberty, 1996) hlm 135
[3] Jujun S, Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah pengantar popular, (
Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2007) hlm 57.
[5] A.C. Ewing.,Persoalan
persoalan mendasar filsafat,(
Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2008)
hlm 80.
[6]Tim
Dosen filsafat ilmu Fakultas filsafat UGM, Op. Cit, hlm 140
[8] Ali Maksum, Pengantar Filsafat
dari Klasik hingga Postmodernisme, ( Jakarta : Ar-Ruz Media,
2011) hlm 198
[9] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II, ( Yogyakarta: Kanisius, 1980) hlm 130
[10] Ali Maksum, Op, Cit. hlm
120.
[13]Tim
Dosen filsafat ilmu Fakultas filsafat UGM, Op. Cit, 141.
Langganan:
Postingan (Atom)

