Senin, 25 Februari 2013

pingggiiiinnn

menulis mungkin bukanlah hal yang baru bagi setiap orang,, hanya dilihat bagaimana dirinya menggunakan dan memadukan bahasa yang akan dijadikan kata dalam perpaduan sebuah kalimat demi kalimat.. ingin sekali dapat memadukan tulisan demi tulisan tapi waktu itu bukanlah hal yang mudah ku cari, bukan alasan waktu juga sih,, tapi lebih tepat penyediaan waktu,,,..
ehmmm,,, andai saja..
ingin kuceritakan pada dunia,, heheheheheheee,, pingin kursus merangkai kata lagi nie,,,
dunia begitu unik untuk diceritakan, karena setiap yang masih diberi waktu n kesempatan punya ceritanya masing-masing sesuai dengan gaya bahasa yang diminati... bingungg yaaa... bagiku itu wajar dan merupakan hal yang sangat.. sangaat wajar,, apa lagi yang baru belajar seperti diriku,,,
tapi klo tidak ada kata memulai kapan realisasinya,,, so tetaplah semangaat dan jadi dirimu sendiri,,.. sebuah penguatan diriku dalam syukur karena DIA masih memberi kita waktu untuk menulis lagi,,,
hehehehehheheheheee,,,,

Rabu, 09 Januari 2013

refleksi



Refleksi
REFLEKSIKAN REFLEKSI...

Akhir perkuliahan tatap muka filsafat ilmu yang telah dilewati dapat saya refleksikan lewat untaian kata-kata ini,....
Teruslah berelegi, semoga elegi dapat bermanfaat untuk kita. Terutama dalam membaca merefleksikan isi dari elegi itu. Dan teruslah belajar dan belajar selalu dari setiap bagian kehidupan yang kita jalani. Itulah filsafat, selama ada manusia yang hidup dan berfikir selama itulah orang-orang masih berfilsafat. Sesuaikanlah wadah dan isinya, agar kita dapat menempatkan substansi dan eksistensi dari setiap aspek agar sesuai dengan wadah dan isi tersebut.
Setiap menelaah filsafat ada beberapa topik yang tidak mudah untuk dikomunikasikan, begitu yang saya ingat yang disampaikan pada pertemuan ini dan itu pula yang kami alami, karena memang tidak mudah untuk memahami filsafat, terutama memahami mengenai masalah:
1.      Ketuhanan
2.      Nomena:  arwah dan alam gaib
3.      Intuisi
Gunakan setiap waktu yang kita miliki, berdoa dan berusaha, jangan hanya sekedar memahami teori tapi ajarkanlah dalam praktek nyata, agar selalu berguna bagi diri kita, keluarga dan masyarakat. Perbanyak memahami dan bersilahturahmi agar selalu ada pencerahan dalam setiap langkah mengartikan hidup yang telah, sedang dan akan dijalani. Selalu belajar dan terus belajar ikhlas, meski ikhlas itu tidak mudah karena menggapai ikhlas butuh waktu dan sempat serta kerendahan hati untuk selalu berkarya dan mengkreasikan setiap yang dapat kita lakukan terutama pencarian ilmu dan arti diri. Dalam setiap langkah, selama waktu itu masih milik kita, dan masih ada sempat yang dikaruniakan olehNYA. Refleksi semoga membawa arti dan bermanfaat, terima kasih untuk setiap ilmu yang diberikan, yang telah dibagikan, semoga kita senantiasa berada dalam lindunganNYA untuk menggapai rahmat dan ridaNYA...
Amien..

PIVI ALPIA PODOMI
12709251008
PENDIDIKAN MATEMATIKA KLS C

Rabu, 02 Januari 2013

filsafatku



SKEMA  MAKALAH
 

tugas akhir filsafatku



MAKALAH

TEORI TENTANG KEBENARAN
(Korespondensi, Koherensi, Pragmatis, Religious, dan Sintaksis)

Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi
Tugas-Tugas Perkuliahan Filsafat Ilmu
Dari Prof Dr. Marsigit M.A.
Tahun  2012/2013









Oleh:

Pivi Alpia Podomi, S.Pd
12709251008



PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013



I. PENDAHULUAN

Kata “ Kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkrit maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang di uji itu pasti memilki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu sendiri. Adanya berbagai macam kategori sebagaimana tersebut diatas, maka tidaklah berlebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memilki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan lainnya.[1]
Kebenaran menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk meyakinkan seseorang ketika diambang sebuah kebingungan dari sebuah konsep yang masih meragukan. Lalu apa sebenarnya sebuah kebenaran itu. Kebenaran merupakan keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya atau sesuatu yang sungguh-sungguh. Kebenaran adalah soal kesesuaian sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Benar atau salahnya sesuatu adalah masalah sesuai atau tidaknya tentang apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Pandangan lain tentang kebenaran dinyatakan oleh Mudyahardjo bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realita sebagaimana adanya. Misalnya, setiap orang mengatakan bahwa “Matahari merupakan sumber energi” adalah suatu pernyataan yang benar, karena pernyataan itu dapat didukung oleh kesesuaian terhadap kenyataan.[2]

Kebenaran sebagai ruang lingkup dan obyek pikir manusia sudah lama menjadi penyelidikan manusia. Manusia sepanjang sejarah kebudayaannya menyelidiki secara terus menerus apakah hakekat kebenaran itu. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia.Sifat manusia adalah fitrah yang ingin selalu “mendekap” kebenaran. Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik psikologis.
Filsuf adalah adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya adalah kebenaran yang hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat di persoalkan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti memburu kebenaran tentang segala sesuatu. Tentunya kebenaran yang hendak di gapai bukanlah kebenaran yang meragukan. Untuk memperoleh kebenaran yang sungguh sungguh dapat di pertanggung jawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih harus senantiasa terbuka untuk di persoalkan kembali dan di uji. Jelas terlihat bahwa kebenaran filsafat tidak pernah bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran yang baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan.Dengan demikian terlihat bahwa salah satu sifat dasar filsafat adalah senantiasa memburu kebenaran. Upaya memburu kebenaran itu adalah demi kebenaran itu sendiri, dan kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang lebih meyakinkan serta lebih pasti.
Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini. Berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita dapatkan.

II.  TEORI - TEORI KEBENARAN
1.      Teori Korespondensi
Teori kebenaran ini berpendapat bahwa kebenaran tercapai dalam atau tergantung pada adanya relasi antara suatu keyakinan atau bagian bagian dari pengetahuan dengan suatu fakta dalam dunia nyata. Ini merupakan teori nalar umum (common-sense). Jika nalar umum bisa dikatakan memiliki teori. Kita biasanya berfikir bahwa, saat kita memilki suatu keyakinan misalnya mengenai dunia fisik, keyakinan tersebut dibuktikan salah atau benar bukan oleh keyakinan yang lain melainkan oleh sesuatu dalam dunia nyata yang menjadi rujukannya. Misalnya keyajinan kita bahwa dalam ruangan tertentu ada meja adalah benar karena dengan fakta mengenai ruangan tersebut. Kemudian hal lain juga dengan keyakinan-keyakinan mengenai pikiran dan pengalaman. Keyakinan kita misalnya bahwa sakit gigi kemarin hanya bisa dibuktikan kebenarannya oleh fakta bahwa kita memang sakit gigi.Teori kebenaran korenspondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut.Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan.
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.[3] Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “ kota Manado terletak di pulau Sulawesi” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual, yakni kota Manado memang benar-benar berada di pulau Sulawesi. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “ kota Manado berada di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “ kota Manado bukan berada di pulau Jawa melainkan di pulau Sulawesi”. 
Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada teori korespondensi, di mana eksponen utamanya adalah Bertrand Russlell (1872-1770) bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau diingkari.Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah.[4]

2.TeoriKebenaranKoherensi
            Teori koherensi dikembangkan pada abad ke 19 di bawah pengaruh hegel dan mazhab idealis yang berkaitan dengannya. Menurut teori ini, kebenaran tidak ditemukan oleh relasi antar suatu penilaian dengan suatu hal lain, suatu fakta atau realitas, melainkan oleh relasi diantara penilaian-penilaian itu sendiri. Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis.
Seorang sarjana Barat A.C Ewing menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu ideal yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya.[5]
Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Seperti sebuah percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungan dari massa, gaya dan kecepatan dalam fisika. Kebenaran tidak hanya terbentuk oleh hubungan antara fakta atau realitas saja, tetapi juga hubungan antara pernyataan-pernyataan itu sendiri. Dengan kata lain, suatu pernyataan adalah benar apabila konsisten dengan pernyataan-pernyataan yang terlebih dahulu kita terima dan kita ketahui kebenarannya.
Salah satu dasar teori ini adalah hubungan logis dari suatu proposisi dengan proposisi sebelumnya. Proposisi atau pernyataan adalah apa yang dinyatakan, diungkapkan dan dikemukakan atau menunjuk pada rumusan verbal berupa rangkaian kata-kata yang digunakan untuk mengemukakan apa yang hendak dikemukakan. Proposisi menunjukkan pendirian atau pendapat tentang hubungan antara dua hal dan merupakan gabungan antara faktor kuantitas dan kualitas. Contohnya tentang hakikat manusia, baru dikatakan utuh jika dilihat hubungan antara kepribadian, sifat, karakter, pemahaman dan pengaruh lingkungan.
Menurut Kattsoff (1986) “ Suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut saling berhubungan dengan proposisi proposisi sisi lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita”. Dengan memperhatikan dua kutipan yang bernada sama maka dapat diungkapkan dengan bahasa yang lebih sederhana bahwa teori kebenaran koherensi atau teori kebenaran saling berhubungan yaitu suatu proposisi itu atau makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar bila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar.
Sebagai contoh kita sebagai bangsa Indonesia pasti memilki pengetahuan bahwa Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari jumat tanggal 17 Ramadhan. Jika seorang hendak membuktikannya tidak dapat langsung melalui kenyataan dalam objektiftasnya, karena kenyataan itu telah berlangsung 66 tahun yang lalu.Untuk membuktikannya, maka harus melalui ungkapan-ungkapan tentang fakta itu yaitu melalui sejarah atau dapat diafirmasikan kepada orang-orang yang mengalami dan mengetahui kejadian itu.[6]
Secara sederhana dapat di simpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan di anggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang di anggap benar. Bila kita menganggap bahwa “ semua manusia akan mati “ adalah suatu pernyataan benar, maka pernyataan “ si fulan adalah manusia” dan “si  fulan pasti mati”, adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.[7]
Kedua teori koherensi dan korespondensi kedua-duanya dipergunakan dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran teoritis berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori kohernsi. Sedangkan proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan tertentu mempergunakan teori kebenaran yang lain disebut teori kebenaran pragmatis.

3. Teori Kebenaran Pragmatis
Teori pragmatis tentang kebenaran ini dikembangkan dan dianut oleh para pilosof pragmatis dari Amerika seperti Charles Sanders Pierce (1839-1914) dan William James (1863-1931). Bagi kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Jadi, ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna.Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang berdasarkan ide itu melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak. William James (1863-1931) mengembangkan teori pragmatisnya dengan berangkat dari pemikirannya tentang “berpikir”. Menurutnya, fungsi dari berpikir bukan untuk menangkap kenyataan tertentu, melainkan untuk membentuk ide tertentu demi memuaskan kebutuhan atau kepentingan manusia. Oleh karena itu, pernyataan penting bagi James adalah jika suatu ide diangap benar, apa perbedaan praktis yang akan timbul dari ide ini dibandingkan dengan ide yang tidak benar. Apa konsekuensi praktis yang berbeda dari ide yang benar dibandingkan dengan ide yang keliru.[8]
 Menurut William James, ide atau teori yang benar adalah ide atau teori yang berguna dan berfungsi memenuhi tuntutan dan kebutuhan kita. Sebaliknya, ide yang salah, adalah ide yang tidak berguna atau tidak berfungsi membantu kita memenuhi kebutuhan kita. Dengan demikian bagi William James, ide yang benar adalah ide yang dalam penerapannya paling berguna dan paling behasil memungkinkan manusia bertindak atau melakukan sesuatu. Artinya, jika ide tertentu itu benar, maka ide itu akan berguna dan berhasil membantu manusia untuk bertindak secara tertentu. maka kebenaran, sama dengan berguna atau kebergunaan. Ide yang berguna lalu berarti ide yang benar dan sebaliknya. Ini berarti pula, suatu ide yang benar akan memungkinkan kita dan menuntun kita untuk sampai pada kebenaran, atau memungkinkan kita untuk sampai pada apa yang diklaim dalam ide atau pernyataan tersebut. Teori kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya.
Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.Menurut teori ini proposisi dikatakan benar sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan. Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna.  Bagi para pragmatis, batu ujian kebenaran adalah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability) dan pengaruhnya yang memuaskan. Contohnya, ide bahwa untuk memberantas korupsi maka harus ada sebuah lembaga tertentu yang menangani persoalan korupsi. Maka, konsep solusinya, “Dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK”. Maka ide tersebut menjadi  benar jika ide itu berguna atau berhasil memecahkan persoalan korupsi.
Teori ini tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono, 1980:130) dalam kehidupan manusia.[9]
Francis Bacon pernah menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus mencari keuntungan-keuntungan untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi. Ilmu pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan manusia. Dengan kata lain ilmu pengetahuan manusia adalah kekuasaan manusia. Hal ini membawa jiwa bersifat eksploitatif terhadap alam karena tujuan ilmu adalah mencari manfaat sebesar mungkin bagi manusia. Manusia dengan segala segi dan kerumitan hidupnya merupakan titik temu berbagai disiplin ilmu. Hidup manusia seutuhnya merupakan objek paling kaya dan paling padat. Ilmu pengetahuan seyogyanya bisa melayani keperluan dan keselamatan manusia.Tujuan ilmu adalah penguasaan terhadap alam. Ilmu harus mempunyai kegunaan praktis dan menambah superioritas manusia terhadap alam semesta. Semboyan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is Power. Dengan ilmu manusia akan dapat menundukkan alam. Seluruh filsafatnya bersifat praksis, yaitu untuk menjadikan manusia menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan perantaraan penemuan-penemuan ilmiah.[10]
Kriteria pragmatisme juga dipergunakan ilmuwan dalam menentukan kebenaran ilmiah dilihat dalam perspektif waktu. Secara historis maka pernyataan ilmiah yang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak demikian.Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuwan bersifat pragmatis, selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah ini maka imuwan bersifat pragmatis: selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar. Sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan. Pengetahuan ilmiah memang tidak berumur panjang, seperti diungkapkan sebuah pengumpulan pendapat dikalangan ahli fisika, bahwa teori tentang partikel takkan lebih dari empat tahun. Untuk ilmu-ilmu lainnya yang agak kurang berhasil dalam menentukan hal-hal baru, seperti embriologi, sebuah revisi dapat diharapkan tiap kurun waktu lima belas tahun.

4. Teori  KebenaranReligious
Teori ini berpendirian bahwa kebenaran ialah kebenaran Illahi (divine truth) kebenaran yang bersumber dari tuhan, kebenaran mana yang disampaikan melalui wahyu. Manusia bukan semata makhluk jasmani yang ditentukan oleh hukum alam dan kehidupan saja. Ia juga makhluk rohaniah sekaligus, pendukung nilai. Kebenaran tidak cukup diukur dengan interes dan rasio individu, akan tetapi harus bisa menjawab kebutuhan dan memberi keyakinan pada seluruh umat. Karena itu kebenaran haruslah mutlak, berlaku sepanjang sejarah manusia .Kebenaran adalah kesan subjek tentang suatu realita, dan perbandingan antara kesan dengan realita objek. Jika keduanya ada persesuaian, persamaan maka itu benar.Kebenaran tak cukup hanya diukur dengan rasional dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal, berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.[11]
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah yang bersifat transedental kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada nabi sebagai suatu pengantara dan kepercayaan terhadap suatu wahyu sebagai cara penyampaian merupakan titik dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu baru bisa diterima. Dan pernyataan ini bisa saja dikaji lewat metode lain. Secara rasional bisa dikaji umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang terkandung didalamnya konsisten atau tidak.di pihak lain secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan tersebut. Dalam memulai mencari kebenaran, pada tahap ini kita akan menghadapi pertanyaan ”what” dan ”when” (apa dan kapan). Kemudian jalan pembuktiannya kita lakukan. Dalam pembuktian ini kita memasuki tahap ”why” dan ”how” (mengapa dan bagaimana). Karena pencarian kebenaran sampai pada tahap ini maka dalam mencari kebenaran kita harus menggunakan alur rasio kita (thinking), dengan melibatkan seluruh panca indera kita (feeling), disertai dengan mengerahkan kemampuan untuk merasakan sesuatu sampai batas menemukan suatu kebenaran dan pembenaran yang hakiki (believing).[12]
Dan pada akhirnya akhir ataupun ujung dari proses pencarian/menemukan suatu kebenaran ini sangat bersifat relatif  bergantung masing-masing individu sesuai dengan kapasitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya, karena setiap orang memiliki persepsi yang sangat berbeda tentang kebenaran bagi kaum religius kebenarn illahi ini adalah kebenarna tertinggi, dimana semua kebenaran (kebenaran indera, kebenaran ilmiah, kebenaran filosofis) taraf dan nilainya berada di bawah kebenaran ini.
Kebenaran religius dalam kenyataan adalah berkaitan dengan spiritualitas dan amat berhubungan dengan esensi yang berkaitan dengan keyakinan. Kebenaran religius bisa terjadi kepada siapapun selain Nabi dan Rasul, yang dalam keyakinan kita sebagai muslim misalnya mendapat ilham. Terkadang juga dalam tingkatan kebenaran religiutas ada hal yang sulit diterima secara rasional misalnya ada yang disebut dengan “indera keenam” ada seseorang yang mengetahui tentang sebuah kebenaran akan masa datang yang belum terjadi dan atau yang akan terjadi yang pada kenyataannya ada benarnya dalam pembuktian dan terkadang juga tidak terbukti. Pada intinya kebenaran religiutas sangat berkaitan dengan sebuah prinsip keyakinan,keghaiban dan ketuhanan.

5. Teori Kebenaran Sintaksis
Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatikal yang di pakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Dengan demikian suatu pernyataan bernilai benar bila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku. Dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang di syaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti. Teori ini berkembang di antara filsuf bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika seperti friderich Schleiermacher (1768-1834).
Menurut Schleiermacher sebagaimana dikutip dalam oleh poesprojo (1987), pemahaman adalah suatu rekonstruksi, bertolak dari ekpresi yang selesai di ungkapkan menjurus ke suasana kejiwaan dimana ekspresi tersebut diungkapkan. Disini terdapat dua momen yang saling terjalin dan berinteraksi, yakni momen tata bahasa dan momen kejiwaan.[13]
Teori ini mengatakan bahwa suatu pernyataan memiliki nilai benar jika pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku. Atau, apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang di syaratkan, proposisi itu tidak mempunyai arti. Kehormatan dan kepercayaan harus dijaga supaya orang lain tidak merasa dikecewakan. Sekali orang berkhianat, orang lain sulit sekali memberi kepercayaan kembali. Orang yang suka lamis atau munafik lama-kelamaan akan dijauhi relasi kerjanya. Sebuah manajemen organisasi akan rusak solidaritas para anggotanya manakala sudah terjadi lamis atau kemunafikan. Seseorang dalam melakukan kecurangan dan tidak transparan dalam manajemen.

III. TINGKATAN-TINGKATAN KEBENARAN
Ada beberapa wujud kebenaran, dan wujud ini berbeda-beda tingkatannya.Perbedaan tingkat ini terutama ditentukan oleh potensi subjek yang menyadari atau menangkap kebenaran itu. Baik panca indra, maupun rasio, bahkan juga jiwa nurani manusia adalah potensi subjek yang menangkap dan menghayati kebenaran itu. Berdasarkan scope potensi subjek itu tadi, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:
1.      Tingkat kebenaran indra adalah tingkat yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia. Indra adalah gerbang kesadaran manusia.
2.      Tingkat ilmiah pengalaman- pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera, diolah pula dengan rasio.
3.       Tingkat filosofis, kedua tingkat di atas telah dilalui sebagai tahap pendahuluan. Rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam, mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya.
4.      Tingkat religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, dan dihayati dengan seluruh kepribadian, dengan integritas kepribadian, dengan iman dan kepercayaan.

IV. PENUTUP
Berfilsafat bisa dilakukan oleh setiap orang. Seseorang yang berfilsafat pada hakikatnya sedang mempelajari dirinya sendiri. Karena seseorang yang berfilsafat pada penghujung petualangannya dengan suatu tindakan berpikir yang menggunakan akal budi untuk mencari dan menemukan menemukan kebenaran hakiki. Tetapi kebenaran ini sangat bersifat relatif bergantung kapasitas ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Semakin kaya seseorang dengan ilmu dan pengalaman maka semakin luas pula ruang lingkup filsafat yang akan dia jangkau.
Kebenaran ditentukan oleh potensi subyek yang berperanan di dalam penghayatan atas sesuatu itu. Bahwa kebenaran itu adalah perwujudan dari pemahaman (comprehension) subjek tentang sesuatu terutama yang bersumber dari sesuatu yang diluar subyek itu realita, perisitwa, nilai-nilai (norma dan hukum) yang bersifat umum.Bahwa kebenaran itu ada yang relatif terbatas, ada pula yang umum. Bahkan ada pula yang mutlak, abadi dan universal. Wujud kebenaran itu ada yang berupa penghayatan lahiriah, jasmaniah, indera, ada yang berupa ide-ide yang merupakan pemahaman potensi subjek (mental, rasio, intelektual). Bahwa substansi kebenaran adalah di dalam intreraksi kepribadian manusia dengan alam semesta. Tingkat wujud kebenaran ditentukan oleh potensi subjek yang menjangkaunya. Dengan berfilsafat seharusnya seseorang akan lebih mengerti hakikat kehadirannya dalam kehidupan didunia ini, yang pada akhirnya akan menyadarkan bahwa dirinya adalah makhluk kecil yang tiada berdaya dengan segala keterbatasan ditengah semesta keluasan dan kemahakuasaan Tuhan yang Maha Esa.






[1] Tim Dosen filsafat ilmu Fakultas filsafat UGM, Filsafat Ilmu, ( Yogyakarta : Liberty, 1996) hlm 135
                [2]Mudyaharjo, Redja. Filsafat Ilmu Pendidikan Suatu Pengantar, ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2002) . hlm. 49
[3] Jujun S, Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah pengantar popular, ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2007) hlm 57.
[4]Ibid.,
[5] A.C. Ewing.,Persoalan  persoalan  mendasar filsafat,( Yogyakarta :  Pustaka Pelajar,2008) hlm  80.
[6]Tim Dosen filsafat ilmu Fakultas filsafat UGM, Op. Cit, hlm 140
[7] Jujun S, Suriasumantri,Op. Cit, hlm 57
[8] Ali Maksum, Pengantar Filsafat  dari Klasik hingga Postmodernisme, ( Jakarta : Ar-Ruz Media, 2011)  hlm 198
[9] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II,  ( Yogyakarta: Kanisius, 1980) hlm 130
[10]  Ali Maksum, Op, Cit. hlm 120.
[11]http://purmadi.wordpress.comfilsafat dan pembagiannya, di akses 20Desember 2012

[13]Tim Dosen filsafat ilmu Fakultas filsafat UGM, Op. Cit, 141.