MITOS DAN FILSAFAT
Secara umum perjalanan
filsafat yang kita pelajari ini tentu perjalanan diri kita, karena kita sendiri
sebetulnya adalah filsafat. Filsafat yang mengalir dari jaman Yunani, seperti
yang telah kita pelajari dimensinya maka sebetulnya ada dimensi material, dimensi
formal dan dimensi spiritual. Sampai dengan abad pertama kelahiran Yesus kristus
sebagai tahun 0 masehi, spiritualnya berbeda, yang bisa kita kenal spiritualnya
ialah bahwa orang Yunani itu sudah mengenal dewa, sudah mengenal berbagai macam
dewa, salah satunya ialah dewa hermen yang dianggap mampu mendengar bisikan
tuhan dan menyampaikan bisikan tuhan itu kepada manusia. Kemudian dalam
perjalanannya, persoalan mereka orang Yunani dulu hampir sama dengan persoalan
kita sehari-hari. Yaitu bahwa seberapa jauh kita itu hidup mengandalkan mitos
dan tidak mengandalkan mitos. Jangan dikira mitos itu selalu negatif, tidak
selamanya mitos itu negatif. Anak kecil belajarnya dari umur 1 sampai 2 tahun memakai/menggunakan
mitos. Mitos itu artinya melakukan tetapi tidak mengerti. Maka sampai seberapa
jauh, sedangkan perjalanan hidup manusia itu sebenar-benarnya untuk mengerti
dan atau memerangi mitos, walaupun mengerti itu berdimensi, dimensinya juga meliputi
ada dan yang mungkin ada. Jadi kayak seekor kucing yang punya pengalaman piknik
ke pantai selatan itu, dia hidup hanya mitos selamanya itupun tidak full. Memorinya
terbatas, ada yang selalu diperbarui, diperbarui dan diperbarui, seberapa sih
seekor burung mengenal tuannya? Rekonstruksi dari beberapa kalimat atau suara,
seperti contoh juga seekor burung yang mampu mengenal tuannya, karena dia
mempunyai memori.
Seorang ilmuan itu selalu
mengambil referensi-referensi. Orang yunani yang pada saat itu berhasil secara efektif,
ekstensif dan intensif mampu mengalahkan beberapa mitos. Begitu juga dengan kita dan tidak tahu seberapa jauh
mitos itu. Seperti di Jogjakarta tentang kebenaran Ratu Kidul, seberapa jauh kebenarannya
Nyai Roro Kidul. Dilihat dari sisi hidup kita tidak mampu berani untuk
berbicara/berkata, tapi dari sisi lain manfaatnya paling tidak orang tidak
sembarangan memperlakukan laut selatan, andai kata punya dampak maka dampaknya
positifnya, jika ada dari masyarakat akan selalu terjaga dan lestari laut
selatan. Ceritanya Raja Mantaram Hamengkubuwono ke IX mampu mengalahkan dan
memperistrinya. Sungguh hebat dan luar biasa Raja Mantaram, maka mana mungkin
orang mampu macam-macam apalagi memberontak melihat rajanya yang mampu
memperistri Nyai Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Kekurangannya, mengandaikan
dari segi matematika manusia jadi berhenti untuk memikirkannya. Tapi di Jawa terutama
di Jogjakarta bukan saja olah pikir tapi olah rasa, olah hati, dan seterusnya,
itulah bedanya filsafat Yunani dulu dengan kita. Kita pun bisa membuat sebuah
mitos dengan cerita kita sendiri melalui sebuah eksperimen, seperti contoh yang
dibuat pak Marsigit, tapi kita harus mampu meyakinkan masyarakat dengan sebuah eksperimen
kecil. Bayangkan jika kita raja, membuat eksperimen agar rakyat mampu
mempercayai dan menghormati, agar tenteram dan positif thinking terhadap
rajanya. Seperti tradisi Jawa, perlu adanya sesaji tuk gunung merapi. Ada jalur
khusus antara gunung merapi, keraton dan kerajaan dengan gunung kidul, jika ditarik
ada garis imaginer. Itulah sebabnya tugu tidak bisa tinggi, hanya setinggi orang
berdiri lurus. Bayangkan di Kamboja, orang bikin tugu, tugu tinggi besar tapi
garisnya tidak lurus nggak cocok maksudnya garis imaginernya. Ketika sang raja
memandang ke selatan ke gunung merapi makanya tugu pendek pada saat dibongkar
dan direnovasi. Tugu Jogja, tugu monumental, keistimewaan Jogja, semakin hari semakin
istimewa, itulah harapannya
Kembali ke filsafat bersamaan
mengalir bukan hanya filsafat tapi dari material, formal, dan juga spiritual. Zaman
Yunani kuno produk filsafatnya sudah cukup hebat ada karya-karya dari Socrates sekalipun
Socrates tidak berkarya tapi diceritakan oleh Plato, yang membuat tulisan Plato
kemudian Aristoteles, Phitagoras, dan lain-lain. Masuk abad I, II masehi dan seterusnya,
pada abad ke-V muncul islam dan seterusnya. Dalam interaksinya, ketika Yunani kuno
secara material sudah ada kegiatan-kegiatan yang berelasi dengan
pemikiran-pemikiran mereka. Material bersifat produk atau hasil, nilai budaya
atau peradaban. Peradaban Yunani kuno sudah ada, termasuk misalnya
tempat-tempat pertemuan, musolium atau apa yang sampai sekarang masih ada
peninggalannya. Plato membuat buku republik yang mengatur tata cara kenegaraan /pemerintahan
secara demokratis. Ketika gereja muncul di Eropa, negara-negara telah
berkembang, pada akhirnya kerajaaan-kerajaan atau negara-negara terpengaruh oleh
gereja. Pemilihan pimpinan dipengaruhi atau ditunjuk oleh gereja dengan beruding
atau berontak atau ditunjuk. Puncak pemikiran dari gereja mulai surut abad ke XI,
XII, menegakkan bahwa segala macam kebenaran adalah hak perogratif gereja
sehingga tidak ada satu orang atau negara yang membuat atau memproduksi
kebenaran kecuali mendapat rekomendasi dari gereja. Tidak mengerti apa itu
oknum atau apa yang tertulis atau salah menerjemahkan, tetapi pada saat itu gereja
berpendapat bahwa tata surya berpusat di bumi, bumi sebagai pusatnya. Adanya
dibuku yunani kuno. Kemudian ada halilintar disiang bolong, si Copernicus
membuat pemikiran bahwa bukan bumi dan ini berlawanan dengan gereja, tidak diterbitkan
langsung bukunya, ia harus dihukum mati dengan pengikutnya, membawa korban Galelio
dan Bruno tidak juga dari gereja tapi orang yang simpatik dan mendukung gereja.
Dilihat dari segi kebenaran, gereja mengalami tamparan untuk mundur. Kita bisa
lihat apakah oknumnya ataukah pemahaman yang berlebihan ataukah implementasinya.
Apakah sebetulnya menyebutkan absolut. Tapi sekarang kita memikirkannya. Karena
manusia sudah sampai di Mars dan di bulan. Dan teorinya sekarang yang benar
berpusat di matahari. Kalau filsafat solusinya gampang sekali, pemikiran sentifik
tapi secara spiritual oleh gereja menganggap bumi itu sebagai pusat karena yang
dirasakan dan dilihat. Matahari terbit dan tenggelam dimana?? Dari timur ke
barat, mereka mengelilingi kita. Itulah definisi yang digariskan dari gereja,
pemikiran yang relatif semacam itu. Berfilsafat antara yang obyektif dan
subyektif. Seperti contoh kapan matahari terbit dari barat?? Spiritual besok kalau
kiamat, filsafatnya ketika engkau lagi bingung. Jadi nggak perlu menunggu
kiamat, cukup menunggu engkau bingung. Jadi sulitnya berfilsafat apa??
Berfilsafat sangat mudah.
Dinamika
perkembangan gereja dengan perkembangan agama islam terjadi bentrok dan
beberapa pertempuran. Ada namanya perang salib. Pertempuran pertama nada-nadanya
islam yang menang. Sehingga dunia timur yang berpusat di Turki dan Persi mampu
mengambil referensi-referensi Yunani kuno, termasuk dinamika gereja yang tidak
suka terhadap filsafat Yunani kuno menyebabkan
mereka merasa kehilangan dengan referensi tersebut. Pertempuran berikut oleh Eropa,
islam dikalahkan, sehingga ditemukan
kembali naskah-naskah Yunani kuno termasuk naskah-naskah yang telah dikembangkan
salah satunya filsuf islam Imam Al-Ghazali. Peran Islam salah satunya menyelamatkan
filsafat Yunani kuno dengan buku-bukunya. Kemudian setelah itu zaman modern, zaman
kebebasan berpikir. Menegakkan kebenaran tidak satu-satunya di dominasi oleh
gereja. Olehnya orang jadi merdeka berpikir. Karena letak geografis yang
dinamik, kalau kita monoton, sangat indah dan bagus, sangat ideal. Daerah-daerah
di khatulistiwa sangat ideal, makmur, subur, dan sebagainya. Contoh hidup
diluar negeri lebih banyak repotnya. Terlihat dari beberapa contoh. hidup di Indonesia
serba mudah dan murah. Contohnya buat rumah, sangat sederhana pemikirannya, orang
luar negeri banyak yang dipikirkan sampai jadi gelandangan harus pakai modal.
Dan sangat mahal, karena perubahan musimnya sangat drastis dan tak terduga.
Sehingga orang sana lebih dinamis dan sangat kreatif sehingga banyak temuan, banyak
teknologi berasal dari sana. Seperti contoh musim panas datang mereka telah
berpikir bagaimana dengan musim dingin. Contoh membuat rumah, yaitu bagamana
cara membuat lubang sebagai perlindungan. Itu teknologi pertama, teknologi
membuat lubang. Bukti di Indonesia beberapa terowongan peninggalan Belanda dan Jepang,
seperti rel kereta api yang sampai sekarang belum ada perubahannya dan negara
kita belum pernah membuat yang baru.
Abad XVIII, pada
zaman modern, era industri di Inggris, ditemukan mesin uap. Dengan pralatan
mesin, penjelajahan mereka bukan hanya pemikiran tetapi secara material, dengan
menemukan dan menaklukan benua-benua, Belanda menemukan Indonesia yang semula
berdagang jadi dijajah karena kurang berilmu dan bodoh. Dipekerja tanpa upah yang
sampai sekarang satu-satunya negara yang dijajah adalah Palestina. Singkat
cerita, filsafat tetap normalnya mengalir bersama materialnya. Formalnya Yaitu
terjadi koloni-koloni. Amerika utara dan selatan. Utara industri pengaruh Inggris
dan selatan agraris. Industrilah yang selalu menang. Itulah, maka sang power noun
semuanya dimulai sejak zaman industri, sejak ditemukan mesin uap oleh James
Watt. Diperkuat oleh Aguste Comte berkembanglah materialisme, pragmatisme, hendonisme,
kapitalisme. Saat ini sponsornya amerika dan negara-negera Eropa, ujungnya
kapitalisme. Contohnya, Amerika yang menjadi prioritas perdagangan dan
investasi, karena pedagang besar kemanapun mereka berada selalu menjadi
prioritas mencari keuntungan besar.
Pertanyaan:
Pak bolehkah saya meminta
atau mengetahui referensi-referensi dari
mitos dan cerita-cerita diatas??
Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Be Positive Ok