Rabu, 28 November 2012

Refleksi: MITOS DAN FILSAFAT


MITOS DAN FILSAFAT

Secara umum perjalanan filsafat yang kita pelajari ini tentu perjalanan diri kita, karena kita sendiri sebetulnya adalah filsafat. Filsafat yang mengalir dari jaman Yunani, seperti yang telah kita pelajari dimensinya maka sebetulnya ada dimensi material, dimensi formal dan dimensi spiritual. Sampai dengan abad pertama kelahiran Yesus kristus sebagai tahun 0 masehi, spiritualnya berbeda, yang bisa kita kenal spiritualnya ialah bahwa orang Yunani itu sudah mengenal dewa, sudah mengenal berbagai macam dewa, salah satunya ialah dewa hermen yang dianggap mampu mendengar bisikan tuhan dan menyampaikan bisikan tuhan itu kepada manusia. Kemudian dalam perjalanannya, persoalan mereka orang Yunani dulu hampir sama dengan persoalan kita sehari-hari. Yaitu bahwa seberapa jauh kita itu hidup mengandalkan mitos dan tidak mengandalkan mitos. Jangan dikira mitos itu selalu negatif, tidak selamanya mitos itu negatif. Anak kecil belajarnya dari umur 1 sampai 2 tahun memakai/menggunakan mitos. Mitos itu artinya melakukan tetapi tidak mengerti. Maka sampai seberapa jauh, sedangkan perjalanan hidup manusia itu sebenar-benarnya untuk mengerti dan atau memerangi mitos, walaupun mengerti itu berdimensi, dimensinya juga meliputi ada dan yang mungkin ada. Jadi kayak seekor kucing yang punya pengalaman piknik ke pantai selatan itu, dia hidup hanya mitos selamanya itupun tidak full. Memorinya terbatas, ada yang selalu diperbarui, diperbarui dan diperbarui, seberapa sih seekor burung mengenal tuannya? Rekonstruksi dari beberapa kalimat atau suara, seperti contoh juga seekor burung yang mampu mengenal tuannya, karena dia mempunyai memori.
Seorang ilmuan itu selalu mengambil referensi-referensi. Orang yunani yang pada saat itu berhasil secara efektif, ekstensif dan intensif mampu mengalahkan beberapa mitos. Begitu  juga dengan kita dan tidak tahu seberapa jauh mitos itu. Seperti di Jogjakarta tentang kebenaran Ratu Kidul, seberapa jauh kebenarannya Nyai Roro Kidul. Dilihat dari sisi hidup kita tidak mampu berani untuk berbicara/berkata, tapi dari sisi lain manfaatnya paling tidak orang tidak sembarangan memperlakukan laut selatan, andai kata punya dampak maka dampaknya positifnya, jika ada dari masyarakat akan selalu terjaga dan lestari laut selatan. Ceritanya Raja Mantaram Hamengkubuwono ke IX mampu mengalahkan dan memperistrinya. Sungguh hebat dan luar biasa Raja Mantaram, maka mana mungkin orang mampu macam-macam apalagi memberontak melihat rajanya yang mampu memperistri Nyai Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Kekurangannya, mengandaikan dari segi matematika manusia jadi berhenti untuk memikirkannya. Tapi di Jawa terutama di Jogjakarta bukan saja olah pikir tapi olah rasa, olah hati, dan seterusnya, itulah bedanya filsafat Yunani dulu dengan kita. Kita pun bisa membuat sebuah mitos dengan cerita kita sendiri melalui sebuah eksperimen, seperti contoh yang dibuat pak Marsigit, tapi kita harus mampu meyakinkan masyarakat dengan sebuah eksperimen kecil. Bayangkan jika kita raja, membuat eksperimen agar rakyat mampu mempercayai dan menghormati, agar tenteram dan positif thinking terhadap rajanya. Seperti tradisi Jawa, perlu adanya sesaji tuk gunung merapi. Ada jalur khusus antara gunung merapi, keraton dan kerajaan dengan gunung kidul, jika ditarik ada garis imaginer. Itulah sebabnya tugu tidak bisa tinggi, hanya setinggi orang berdiri lurus. Bayangkan di Kamboja, orang bikin tugu, tugu tinggi besar tapi garisnya tidak lurus nggak cocok maksudnya garis imaginernya. Ketika sang raja memandang ke selatan ke gunung merapi makanya tugu pendek pada saat dibongkar dan direnovasi. Tugu Jogja, tugu monumental, keistimewaan Jogja, semakin hari semakin istimewa, itulah harapannya
Kembali ke filsafat bersamaan mengalir bukan hanya filsafat tapi dari material, formal, dan juga spiritual. Zaman Yunani kuno produk filsafatnya sudah cukup hebat ada karya-karya dari Socrates sekalipun Socrates tidak berkarya tapi diceritakan oleh Plato, yang membuat tulisan Plato kemudian Aristoteles, Phitagoras, dan lain-lain. Masuk abad I, II masehi dan seterusnya, pada abad ke-V muncul islam dan seterusnya. Dalam interaksinya, ketika Yunani kuno secara material sudah ada kegiatan-kegiatan yang berelasi dengan pemikiran-pemikiran mereka. Material bersifat produk atau hasil, nilai budaya atau peradaban. Peradaban Yunani kuno sudah ada, termasuk misalnya tempat-tempat pertemuan, musolium atau apa yang sampai sekarang masih ada peninggalannya. Plato membuat buku republik yang mengatur tata cara kenegaraan /pemerintahan secara demokratis. Ketika gereja muncul di Eropa, negara-negara telah berkembang, pada akhirnya kerajaaan-kerajaan atau negara-negara terpengaruh oleh gereja. Pemilihan pimpinan dipengaruhi atau ditunjuk oleh gereja dengan beruding atau berontak atau ditunjuk. Puncak pemikiran dari gereja mulai surut abad ke XI, XII, menegakkan bahwa segala macam kebenaran adalah hak perogratif gereja sehingga tidak ada satu orang atau negara yang membuat atau memproduksi kebenaran kecuali mendapat rekomendasi dari gereja. Tidak mengerti apa itu oknum atau apa yang tertulis atau salah menerjemahkan, tetapi pada saat itu gereja berpendapat bahwa tata surya berpusat di bumi, bumi sebagai pusatnya. Adanya dibuku yunani kuno. Kemudian ada halilintar disiang bolong, si Copernicus membuat pemikiran bahwa bukan bumi dan ini berlawanan dengan gereja, tidak diterbitkan langsung bukunya, ia harus dihukum mati dengan pengikutnya, membawa korban Galelio dan Bruno tidak juga dari gereja tapi orang yang simpatik dan mendukung gereja. Dilihat dari segi kebenaran, gereja mengalami tamparan untuk mundur. Kita bisa lihat apakah oknumnya ataukah pemahaman yang berlebihan ataukah implementasinya. Apakah sebetulnya menyebutkan absolut. Tapi sekarang kita memikirkannya. Karena manusia sudah sampai di Mars dan di bulan. Dan teorinya sekarang yang benar berpusat di matahari. Kalau filsafat solusinya gampang sekali, pemikiran sentifik tapi secara spiritual oleh gereja menganggap bumi itu sebagai pusat karena yang dirasakan dan dilihat. Matahari terbit dan tenggelam dimana?? Dari timur ke barat, mereka mengelilingi kita. Itulah definisi yang digariskan dari gereja, pemikiran yang relatif semacam itu. Berfilsafat antara yang obyektif dan subyektif. Seperti contoh kapan matahari terbit dari barat?? Spiritual besok kalau kiamat, filsafatnya ketika engkau lagi bingung. Jadi nggak perlu menunggu kiamat, cukup menunggu engkau bingung. Jadi sulitnya berfilsafat apa?? Berfilsafat sangat mudah.
Dinamika perkembangan gereja dengan perkembangan agama islam terjadi bentrok dan beberapa pertempuran. Ada namanya perang salib. Pertempuran pertama nada-nadanya islam yang menang. Sehingga dunia timur yang berpusat di Turki dan Persi mampu mengambil referensi-referensi Yunani kuno, termasuk dinamika gereja yang tidak suka  terhadap filsafat Yunani kuno menyebabkan mereka merasa kehilangan dengan referensi tersebut. Pertempuran berikut oleh Eropa, islam dikalahkan,  sehingga ditemukan kembali naskah-naskah Yunani kuno termasuk naskah-naskah yang telah dikembangkan salah satunya filsuf islam Imam Al-Ghazali. Peran Islam salah satunya menyelamatkan filsafat Yunani kuno dengan buku-bukunya. Kemudian setelah itu zaman modern, zaman kebebasan berpikir. Menegakkan kebenaran tidak satu-satunya di dominasi oleh gereja. Olehnya orang jadi merdeka berpikir. Karena letak geografis yang dinamik, kalau kita monoton, sangat indah dan bagus, sangat ideal. Daerah-daerah di khatulistiwa sangat ideal, makmur, subur, dan sebagainya. Contoh hidup diluar negeri lebih banyak repotnya. Terlihat dari beberapa contoh. hidup di Indonesia serba mudah dan murah. Contohnya buat rumah, sangat sederhana pemikirannya, orang luar negeri banyak yang dipikirkan sampai jadi gelandangan harus pakai modal. Dan sangat mahal, karena perubahan musimnya sangat drastis dan tak terduga. Sehingga orang sana lebih dinamis dan sangat kreatif sehingga banyak temuan, banyak teknologi berasal dari sana. Seperti contoh musim panas datang mereka telah berpikir bagaimana dengan musim dingin. Contoh membuat rumah, yaitu bagamana cara membuat lubang sebagai perlindungan. Itu teknologi pertama, teknologi membuat lubang. Bukti di Indonesia beberapa terowongan peninggalan Belanda dan Jepang, seperti rel kereta api yang sampai sekarang belum ada perubahannya dan negara kita belum pernah membuat yang baru.
Abad XVIII, pada zaman modern, era industri di Inggris, ditemukan mesin uap. Dengan pralatan mesin, penjelajahan mereka bukan hanya pemikiran tetapi secara material, dengan menemukan dan menaklukan benua-benua, Belanda menemukan Indonesia yang semula berdagang jadi dijajah karena kurang berilmu dan bodoh. Dipekerja tanpa upah yang sampai sekarang satu-satunya negara yang dijajah adalah Palestina. Singkat cerita, filsafat tetap normalnya mengalir bersama materialnya. Formalnya Yaitu terjadi koloni-koloni. Amerika utara dan selatan. Utara industri pengaruh Inggris dan selatan agraris. Industrilah yang selalu menang. Itulah, maka sang power noun semuanya dimulai sejak zaman industri, sejak ditemukan mesin uap oleh James Watt. Diperkuat oleh Aguste Comte berkembanglah materialisme, pragmatisme, hendonisme, kapitalisme. Saat ini sponsornya amerika dan negara-negera Eropa, ujungnya kapitalisme. Contohnya, Amerika yang menjadi prioritas perdagangan dan investasi, karena pedagang besar kemanapun mereka berada selalu menjadi prioritas mencari keuntungan besar.

Pertanyaan:
Pak bolehkah saya meminta atau mengetahui referensi-referensi dari  mitos dan cerita-cerita diatas??
Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Be Positive Ok