Rabu, 12 Desember 2012

WADAH FILSAFAT, LABORATORIUM


WADAH FILSAFAT, LABORATORIUM

Kita dapat menempatkan fungsi suatu obyek sebagai sebuah wadah laboratorium sesuai dengan substansi yang dimiliki agar bermanfaat sesuai dengan kebutuhan hidup yang kita cari dan inginkan. Sebagai sebuah tempat/wadah untuk bertukar ide dan pikiran terutama kepada generasi muda dan kepada setiap orang sesuai dengan fungsi yang dimiliki oleh masing-masing orang tersebut.
Seseorang yang mencari ilmu dapat diibaratkan sesuai dengan jenjang ilmu atau tingkatan atau gelar yang digeluti dan kompetensi dimiliki. Kita dapat ibaratkan bahasa sindirannya atau guyonannya bahwa: S1 pecah telur, S2 kreatifitas, S3 belajar hidup, professor membangun hidup. Jadi tugas beratnya sebagai seseorang sesuai dengan jenjang ilmu yang dimiliki baik secara material maupun spiritual akan selalu berjenjang pula.
Setiap orang janganlah menutup diri tetapi kreatif dalam membangun hidup untuk mencari ilmu dan pengembangan keahlian diri sebagai anugerah dari Tuhan, kemanapun ilmu itu berada, untuk memperbaiki diri dan ilmu yang dimiliki dapat dimanfaatkan diberbagai bidang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Setiap yang memiliki sebuah ilmu atau keahlian selalu dibutuhkan sesuai dengan substansi dan eksistensi diri.
Jangan takut untuk gagal, karena kegagalan adalah sukses yang tertunda. Sebuah peribahasa yang masih dapat kita gunakan untuk membangun motivator dalam sebuah kratifitas hidup. Seperti menjadi guru yang akuntabilitas mungkin bukanlah hal yang muda dan itu memang bukan hal yang mudah bagi setiap orang karena  akuntabiliitas itu seberapa jauh dipercaya. Menjadi guru yang akuntabilitas, berarti kita dipercaya oleh orang tua untuk mendidik anak/buah hatinya.Menjadi seorang yang akuntabel bukan hanya sebagai seorang guru tapi mencakup antara ada dan yang mungkin ada, masih dicari dan dipertanyakan akuntabilitasnya. Baik seorang itu masih hidup atau sudah mati.
Di kemajuan teknologi saat sekarang ini, kita setiap yang ada pasti mempunyai kumpulan data sesuai dengan kebutuhan yang dimilikinya. Folder-folder itu selalu menjadi sarana prasarana bagi dia untuk  membantu setiap kerja yang dimiliki sesuai kapasitas wadah yang ada. Menjadi sarana pengembangan diri , membangun hidup. Sebagai ciri dari setiap diri yang ada.
Sesuatu yang ingin kita ketahui itu carilah ilmunya sendiri. Jangan berharap untuk diberi, tetapi dicari sendiri karena dalam proses pencarian sebagai suatu ciri bagi dirimu sendiri. Janganlah pernah jadi bayang-bayang dari orang lain tapi bangunlah untuk kebutuhan dirimu sendiri. Karena tidak ada gunanya untuk mendapatkan sesuatu jika hanya diberi tanpa sebuah usaha proses pencarian dan perjuangan. Maknanya akan selalu berbeda sesuai dengan sensitivitas yang dimiliki setiap orang antara ada dan yang mungkin ada.
Carilah wadah untuk laboratorium yang akan kamu gunakan sesuai dengan kapasitasnya. Carilah sesuai dengan apa yang ingin kamu peroleh dan kreatifkanlah setiap anugerah yang masih dapat kamu miliki. Jadilah seperti angin yang menyentuh dengan lembutnya, membawa sebuah kesejukkan, hanya dirasa tapi tak berbentuk karena kelembutan yang dimilikinya. Bangunlah wadah filsafatmu dalam sebuah laboratorium.
Pertanyaan:
Dalam membangun sebuah filsafat atau proses pencarian ilmu kita sering terintimidasi atau terpengaruh dengan pemahaman orang lain sesuai wadah yang kita gunakan sebagai sumber. Yang menjadi pertanyaan saya bagaimana cara agar kita tidak terintimidasi atau terpengaruh tetapi membangun pemahaman kita sendiri? Terima kasih

PIVI ALPIA PODOMI
12709251008
PENDIDIKAN MATEMATIKA KLS C

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Be Positive Ok